AYO PUASA, TAPI JANGAN PERSEMPIT MAKNA IBADAH
Hari ini kita
mulai menjalani ibadah puasa bulan Ramadhan. Selama bulan Puasa, tak
jarang kita mendengar ungkapan “Sudahlah, ini bulan Puasa. Nggak usah
bikin kegiatan macam-macam. Kita konsentrasi saja pada ibadah.”
Masyaa Allah. Kata ibadah ternyata masih sering dimaknai secara sempit
oleh kebanyakan orang. Seolah-olah yang termasuk ibadah itu hanya
salat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an dan beberapa jenis ibadah
mahdah lainnya. Sedangkan yang di luar itu dianggap tidak termasuk
ibadah.
Jika demikian halnya, lantas bagaimana dengan segala
aktivitas dan kegiatan manusia lainnya, meskipun diniatkan semata-mata
karena Allah Swt? Bagaimana halnya dengan Perang Badr yang luar biasa
dahsyatnya itu? Bagaimana dengan Penaklukkan Mekah? Bagaimana dengan
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di hari Jum’at tanggal 17
Agustus 1945? Ketiga contoh peristiwa besar tersebut justru berlangsung
di bulan Ramadhan. Demikian pula sejumlah peristiwa bersejarah lainnya.
Perang Badr yang legendaris berlangsung antara pasukan Rasulullah Saw
yang hanya berkekuatan 313 prajurit, dengan dukungan 70 ekor unta dan 3
ekor kuda yang dinaiki secara bergantian serta perlengkapan perang apa
adanya, melawan tentara kafir Mekah berkuatan 1000 prajurit, 600
diantaranya infanteri berbaju besi, 100 orang tentara berkuda (kavaleri)
serta 300 prajurit pendukung.
Luar biasa niat ibadah Pasukan
Rasulullah melalui jalan perang menaklukkan musuh-musuhnya. Waktu itu
musim panas tengah berlangsung amat terik, sedangkan perbekalan makanan
dan minuman Pasukan Muslim sangat terbatas, sehinga mereka hanya bisa
sahur dan berbuka dengan beberapa teguk air dan beberapa butir kurma
saja.
Akibatnya, sebelum pertempuran berlangsung, sudah ada
sejumlah prajurit yang jatuh pingsan karena lapar dan haus. Namun mereka
tidak menyerah. Bahkan tak mau juga membatalkan puasanya, meskipun
Rasulullah telah mengijinkan dan menganjurkan.
Alhamdulillah,
diawali dengan pergerakan pasukan tanggal 08 Ramadhan dari Madinah,
perang dahsyat yang berlangsung di Lembah Badr, antara Madinah dan
Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan 2H itu, akhirnya dimenangkan secara
telak oleh Pasukan Rasulullah.
Sesungguhnyalah, secara garis
besar ibadah di bagi menjadi dua macam. Pertama, ibadah yang selama ini
kita kenal sebagai ibadah mahdah, ibadah yang ketentuannya pasti seperti
salat, puasa, zakat dan haji. Ibadah ini juga disebut ibadah khusus.
Kedua, ibadah amah atau ibadah umum yang banyak dikenal sebagai ibadah
muamalah. Semua perbuatan dan semua bentuk kebaikan yang dilaksanakan
dengan niat ikhlas karena Gusti Allah tergolong dalam ibadah ini.
Begitulah, setiap orang yang mampu menjadikan semua aktivitas dirinya
untuk menggapai ridho Allah Swt, berarti telah melakukan suatu amal
ibadah yang besar artinya, lebih-lebih lagi jika amal salehnya itu
meliputi hubungan antar sesama yang luas. Ibadah yang seperti ini
disebut ibadah muamalah. Hubungan sesama yang luas ini meliputi hubungan
antara hamba dengan Allah, hubungan antara manusia dengan sesama
manusia serta hubungan antara manusia dengan alam dan segenap isinya
Saudaraku yang budiman, di samping ibadah mahdah seperti halnya salat
dan puasa, ternyata masih banyak lagi hal-hal yang menuntut amal
perbuatan, amal saleh kita melalui ibadah muamalah. Memberantas korupsi
yang dampaknya luas dan sangat luar biasa jahatnya, membasmi
ketidakadilan dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa dan bernegara,
memerangi penyebab-penyebab kemiskinan, melawan perusakan alam dan
lingkungan, demikian pula melawan kemunafikan dan kemungkaran, yang
bukan tidak mungkin bahkan sedang bersimaharajelala di diri kita, yang
justru mungkin tidak kita pahami dan sadari, adalah juga ibadah.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara misalnya, Republik Indonesia
diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364H. Kemerdekaan
diproklamasikan lantaran kita memiliki cita-cita luhur antara lain untuk
memerdekakan, mencerdaskan, mensejahterahkan, memakmurkan serta
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan tanah tumpah darah
kita.
Adakah cita cita itu sudah terwujud? Apakah justru bukan
sedang berlangsung kembali penjajahan oleh Kapitalisme Global? Apakah
bukan kita justru seperti apa yang dikhawatirkan oleh Proklamator Bung
Karno sebagai hal yang sulit diatasi, yaitu kita sedang dijajah oleh
bangsa sendiri?
Berjuang melakukan revitalisasi semangat
cita-cita kemerdekaan 1945, bagi sebesar-besar kemaslahatan masyarakat
luas, adalah juga ibadah yang harus terus dikobarkan dan ditegakkan
kapan saja, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah melalui Perang Badr.
Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar.
Beji, 01 Agustus 2011 (01 Ramadhan 1432 H)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar