Minggu, 31 Juli 2011

SBY, AKANKAH MENUNGGU MUKJIZAT?

Hari-hari belakangan ini, banyak orang khususnya para politisi yang berpendapat, Presiden SBY harus cepat membenahi “Koalisi Partai Pemerintah” mumpung masa tugasnya masih tiga setengah tahun.Pernyataan tersebut bisa benar tapi juga bisa salah. Benar jika melihat kalender Pemilu lima tahunan. Tapi salah jika melihat realita keadaan dan politik.

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kami telah mengingatkan, sesungguhnyalah masa pemerintahan Presiden SBY yang efektif dalam masa jabatan II, tidak lebih dari tiga tahun. Memasuki tahun ke-4, mitra-mitra koalisinya sudah akan mulai bermanuver menghadapi Pemilu dan Pilpres 2014, sehingga Pemerintahannya menjadi kurang efektif.

Dengan memahami kemungkinan yang seperti itu, Presiden SBY diharapkan bekerja all-out dalam dua setengah tahun pertama masa jabatan yang kedua, dan bukan sekedar berwacana serta pamer rapat melulu, apalagi masih berusaha membangun citra melalui opera-opera sabun.


Sayang sekali, kenyataannya justru lebih buruk lagi.. Dalam tahun pertama ia hanya disibukkan oleh “Kasus Century”, disusul berbagai bencana alam. Memasuki tahun kedua, ia menjadi sangat dipusingkan oleh kasus mafia hukum, aneka kegagalan sektor produksi dalam negeri, bahkan untuk produk-produk yang rasanya mustahil itu bisa terjadi seperti cabe, garam, ikan teri dan ikan kembung. Juga tidak kalah memusingkan adalah pernyataan orang-orang kalangan dalamnya, yang tidak memiliki fatsun bahkan empati terhadap keadaan, khususnya penderitaan rakyat, seperti Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam dan Ketua DPR Marzuki Ali. Lebih memusingkan lagi adalah gonjang-ganjing kasus Hak Angket Pajak yang berbuntut pada ketidak-kompakan Setgab Koalisi.

Kini SBY dengan Partai Demokratnya sedang menghadapi buah simalakama dengan sikap dua mitra koalisinya yaitu Golkar dan PKS yang mbalelo. Memang nampaknya SBY dapat pengganti dari PDIP dan Gerindra. Tapi benarkah ini akan menolong keadaan?

Marilah kita coba melihat potensi sumber daya serta basis akar rumput partai-partai yang ada. Yang paling kuat basis dan militansi akar rumputnya adalah PDIP dan PKS. Sedangkan Golkar kuat di sumberdaya tapi lemah di akar rumput. Namun demikian semenjak Megawati menjadi Presiden, perpecahan demi perpecahan dalam PDIP justru terjadi, sementara itu ketidakpuasan “wong cilik” sebagai basis massa merebak, karena setelah berkuasa, ternyata lupa juga pada “wong ciliknya”.

Massa PKS memang belum meluas, dan sebagaimana juga partai-partai lainnya yang lahir di era reformasi, menunjukkan kelemahan-kelemahan yang menonjol khususnya keberpihakannya terhadap nasib rakyat kecil, ketergantungannya pada figure, kesan eksklusif serta ke-Indonesiaannya yang dianggap kurang.

Tetapi dibanding partai-partai lainnya, nampaknyha PKS cepat menyadari kelemahan-kelemahan tsb, dan dengan menejemen organisasinya yang bagus, sedang mencoba berbenah. Jika bisa meningkatkan kepeduliannya terhadap nasib sebagian besar rakyat (tentu saja yang sebagian besar itu adalah muslim) yang hidup semakin sengsara dalam sepuluh tahun terakhir ini, juga bisa menghapus kesan eksklusif serta mengkokohkan ke-Indonesiannya secara lebih baik dan nyata, lebih bisa mengedepankan ruh atau api Islamnya dibanding sekedar penampilan fisik, bukan tidak mungkin PKS bisa menjadi partai besar dalam Pemilu 2014.

Bagaimana dengan Gerindra? Meskipun belum dijabarkan secara detail, Gerindra memiliki konsep ekonomi kerakyatan yang lebih jelas dibanding partai lain. Namun sayang sekali, Gerindra mengesankan lebih sebagai partainya Prabowo dibanding partai massa rakyat yang terorganisasi secara baik. Demikian pula keberpihakannya kepada petani tatkala memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, juga tidak membekas.

Setelah menyimak analisa kekuatan-kelemahan-ancaman​ dan peluang partai-partai, tak pelak lagi SBY tengah menghadapi buah simalakama, dimakan ibu mati – tak dimakan bapak mati. Di tengah kehidupan rakyat yang semakin memburuk, sementara di lain pihak gaya hidup sebagian keluarga Pegawai Negeri dan para elite semakin mewah menyolok, keluarnya – jika berani – Golkar dan PKS dari Setgab Koalisi, justru akan menguntungkan kedua partai tsb.

Jika ingin selamat dan dikenang sebagai Pemimpin Indonesia yang dihormati dan dikagumi, tiada cara lain bagi SBY kecuali berani bertindak sebagai seorang “hero”, yang berani bertempur jika perlu sendirian melawan musuh-musuh rakyat yang ganas. Berani dan sanggup menghadapi kenyataan bajunya kotor dan kumal, rambutnya tak selalu kelimis lagi, badannya luka berdarah-darah. Berani menyingkirkan segala puji sanjung yang menyesatkan. Sanggupkah? Atau kita menunggu mukjizat saja? Semoga.
(B.Wiwoho/ 04.03.2011).

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda