“Watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak
dan perangai para pemimpinnya. Sebab keburukan yang dilakukan orang
awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Orang
awam belajar dari mereka, serta meniru watak atau kebiasaan mereka.” (Al-Ghazali)
Kepemimpinan
Nasional harus mampu menggalang kepercayaan rakyat, sekaligus
membangun harapan mereka atas masa depan yang gemilang, dan selanjutnya
memimpin rakyatnya untuk bergerak, berbuat mewujudkan harapan tersebut
menjadi kenyataan. Ini adalah pekerjaan rancang bangun dan rekayasa
sosial yang besar, yang membutuhkan public relations yang
terpadu serta komprehensif, termasuk di dalamnya berbagai kegiatan yang
berbentuk dan bersifat Gerakan Nasional. Untuk itu Kepemimpinan
Nasional harus merupakan sebuah Dream Team yang:
1. Berintegritas, solid, kuat, berwibawa dan efektif :
1.1. satu visi
1.2. satu kata
1.3. satu perbuatan
1.4. satunya kata dengan perbuatan
2. Dapat menjadi panutan (menjadi tuntunan dan bukan tontonan) dalam perilaku dan kehidupan yang “Bersih – Sederhana – Mengabdi (BSM).”
Krisis multidimensi yang besar, berat dan kompleks yang kita derita
selama ini, secara keimanan bersumber dari krisis moral. Oleh sebab itu
upaya penanggulangannya harus bertitik tolak dari reformasi moral
kepemimpinan. Upaya ini harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku
dan moralitas pemimpin masyarakat atau para pemegang kendali di
sektor-sektor kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya para ulama dan
umara.
Marilah kita bangun kepedulian dan kebersamaan
kita sebagai bangsa dengan jalan mempraktekkan pola hidup BSM. Untuk
itu segala macam aktivitas yang kita lakukan harus dimulai dengan
kebersihan jiwa, kebersihan hati dan niat, dikembangkan dalam pola
kehidupan serta perilaku kesederhanaan, dengan sasaran pengabdian.
Pola
hidup BSM harus dikembangkan menjadi moral ekonomi, politik, hukum dan
terus dikembangkan ke sektor-sektor kehidupan lainnya.
Dalam
rangka itu pula para elite politik bangsa, khususnya pimpinan nasional
harus berani menghindari konflik kepentingan dengan tidak merangkap
jabatan di partai politik dan bisnis.
3. Berani :
3.1. Mengambil risiko tidak populer demi kemaslahatan rakyat, bangsa dan negara
3.2.
Membuat dan melaksanakan Paradigma Baru dalam bidang ekonomi dan
kesejahteraan rakyat yang sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan
bangsanya, sehingga bisa keluar dari keterpurukan yang semakin parah
akibat paradigma lama yang kita anut selama 40 tahun terakhir ini.
3.3.
Membangun jatidiri peradaban bangsanya dan bukan mengekor jatidiri
peradaban bangsa-bangsa lain, lebih-lebih mengikuti tekanan kekuasaan
bangsa-bangsa lain.
4. Menjadi contoh/teladan dalam
bekerja keras, dan pada tahap-tahap awal atau pada saat tertentu yang
urgent, sanggup bekerja dalam irama Crisis Center dengan Manajemen Krisisnya.
5.
Penuh komitmen dan mengabdi dengan sepenuh jiwa raga, rasa dan karsa
bagi bangsa dan rakyatnya (semangat wakaf diri dan perjuangan)
6.
Memiliki kepedulian dan solidaritas sosial yang tinggi terhadap
persoalan dan penderitaan rakyat, senasib sepenanggungan yang dibuktikan
dengan ucapan, kebijakan serta tindakan.
7. Anggota “Dream Team”
harus berpengalaman dalam bidang kemasyarakatan dan memahami serta
menguasai bidang masing-masing serta merupakan tim yang kompak.
8. Didukung oleh sistem informasi dan komunikasi publik yang tepat dan berdayaguna tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar