Sikap dan pernyataan Presiden SBY belakangan ini, lebih-lebih
orang-orang dekatnya dan para elit politik, sungguh sudah sangat
membahayakan, bukan hanya bagi diri mereka sendiri, tapi juga bagi
persatuan dan kesatuan bangsa. Berbagai sikap dan pernyataan buruk
mereka menumpuk dari satu kasus ke kasus lain, dari satu masalah ke
masalah lain, menggunung dari waktu ke waktu, terdokumentasi sekaligus
menyebar luas melalui berbagai media massa baik yg formal seperti
suratkabar, majalah dan televisi, maupun melalui media informal jejaring
sosial seperti e-mail, fesbuk, blog , twitter dan sms. Contoh terbaru
adalah pembatalan mendadak kunjungan kenegaraan ke Belanda, pernyataan
Ketua DPR Marzuki Ali tentang tsunami Mentawai, plesiran studi banding
DPR ke luar negeri, sikap masa bodoh anggota DPR ketika berjumpa dengan
TKI-TKI yg terlantar di Timur Tengah dan yang sedang hangat, pernyataan
Presiden SBY tentang Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kekuatiran
saya mengenai “Tim Impian SBY”, telah saya kemukakan jauh sebelum ini,
yakni tatkala saya diwawancarai MNC-News TV begitu setelah perombakan
Kabinet Indonesia Bersatu I (Pertama). Cara Presiden merekrut para
pembantunya yang heboh-hiruk pikuk berlarut-larut, bagi SBY + para abdi
dalemnya mungkin dimaksudkan sebagai pencitraan. Tapi bagi nurani saya
adalah justru menunjukkan ujub-riya yang seharusnya dijauhi, bahkan
lebih dari itu menunjukkan kelemahan dalam merekrut staf dan kelemahan
dalam mengenal siapa-siapa tokoh yang pantas memimpin bangsa ini.
Di
negara-negara maju, partai oposisi dan seseorang yang mendeklarasikan
dirinya sebagai Calon Presiden, pada umumnya sudah memiliki “Kabinet
Bayangan”, setidak-tidaknya sejumlah orang dalam “tim impiannya”.
Sebagai
mantan wartawan yang cukup lama tugas di Istana dan mengenal sangat
dekat karena tugas –tugasnya: antara lain tokoh-tokoh Pimpinan Operasi
Khusus Ali Murtopo (alm), Kepala BAKIN Yoga Sugomo (alm), pemegang
rekor jabatan menteri lebih dari 30 tahun, alm Radius Prawiro dan Menko
Ekuin/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro, saya sering memperoleh bocoran
catatan daftar 150-an tokoh-tokoh nasional yang dibuat sendiri oleh
mantan Presiden Soeharto, yang sewaktu-waktu dapat direkrut untuk
mengemban tugas membantu Presiden. Dari waktu ke waktu daftar itu selalu
tersedia dan senantiasa dinamis-diperbarui.
Pada
awal-awal masa Pemerintahannya, terutama untuk bidang-bidang politik dan
keamanan, Pak Harto mengenal sendiri tokoh-tokoh nasional secara
langsung, khususnya teman-teman seperjuangannya, sehingga daftar
tersebut dapat dengan mudah beliau susun sendiri. Seiiring dengan waktu
dan kesibukan, beberapa orang kepercayaan mensuplai informasi. Pak Harto
mencermati serta mendalami informasi tersebut dan menyaring
berlapis-lapis. Jika suatu saat beliau membutuhkan, beliau menugaskan
teman-teman di Opsus, setelah Opsus dibubarkan diteruskan oleh BAKIN,
untuk mengecek dengan cepat dan sangat rahasia dalam hitungan hari,
tanpa hiruk-pikuk, informasi tentang seseorang tokoh yang akan
direkrut, misalkan tentang siapa teman tidur-sekasurnya (isteri), siapa
sedulur-sesumur (saudara dekat), siapa teman bergaulnya, apa saja
hobbynya, bagaimana riwayat perjuangannya terutama rasa
setiakawan-loyaltas kepada pimpinan dan senior-kejujuran dan kapasitas
pribadinya. Kata akhir Pak Harto diputuskan sendiri, dan disampaikan
sendiri oleh Pak Harto kepada yang bersangkutan.
Sejalan
dengan bertambahnya usia Pak Harto, kawan seperjuangan Pak Harto makin
sedikit, banyak yang mendahului kepangkuan Ilahi. Bersamaan dengan itu,
pada pertengahan 80-an hubungan Pak Harto dengan pak Yoga yang sudah
berlangsung akrab semenjak tahun 60-an, “membeku”. Jika biasanya hampir
setiap Jumat malam mereka bertemu membahas evaluasi dan perkiraan
keadaan, semenjak itu tidak lagi berlanjut. Pak Yoga yang sangat kesal,
mengajak saya menenangkan diri ke Jepang hampir selama 2 minggu. Dalam
kesempatan ini pak Yoga menyampaikan keprihatinannya terhadap keadaan
bangsa dan Negara, yang disebabkan oleh kepemimpinan Pak Harto yang
mulai melemah, bisnis keluarga dan putera-puteranya yang terus membesar
serta sumber informasi dan rekrutmen pak Harto yang semakin menyempit.
Karena itulah pak Yoga menyarankan agar pak Harto dengan jiwa besar
legowo lengser keprabon dan tidak maju lagi dalam masa jabatan
berikutnya. Saran pak Yoga tersebut, kata beliau, tidak ditanggapi oleh
Pak Harto dan ditolak oleh sejumlah pejabat dekat lainnya. Kisah
selanjutnya kita sudah banyak yang tahu.
Demikianlah, betapa
penting orang-orang disekeliling pemimpin, diakui oleh para tokoh dunia.
Kanjeng Nabi Muhammad menyatakan, “Apabila Allah berkenan untuk
munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memperuntukkan
baginya menteri yang jujur, yang bila ia lupa, maka menteri itu akan
mengingatkannya, dan bila ia ingat maka akan mem bantunya. Tetapi
apabila Allah berkehendak selain itu, maka Allah akan menyediakan
baginya menteri yang jahat, yang bila Sang Pemimpin lupa, maka sang
menteri tidak mengingatkan, dan bila ingat tidak membantunya.”
Tentang
kepemimpinan, filsuf Islam terkemuka, Al Ghazali menulis panjang lebar
dalam bukunya “Nasihat Untuk Penguasa”. Dalam hal para pembantu , Al
Ghazali mendukung pendapat filsuf Yunani, Aristoteles yang menyatakan: “
Sebaik-baik penguasa adalah orang yang pandangannya tajam bak burung
rajawali, sedangkan orang-orang yang berada di sampingnya memiliki
kecerdasan serupa, bagaikan banyak burung rajawali, bukan seumpama
bangkai.”
Dalam konteks ini, Al Ghazali menggariskan 5 kewajiban seorang Pemimpin yaitu:
1.Menjauhkan orang-orang bodoh dari pemerintahannya.
2.Membangun negeri, merekrut orang-orang cerdas dan potensial.
3.Menghargai orang tua dan orang bijak.
4.Melakukan
uji coba dan meningkatkan kemajuan Negara dengan melakukan penertiban
serta pembersihan terhadap segala tindak kejahatan.
5.Taat pada aturan serta Undang-Undang dan jangan sekehendak hati.
Seorang
pemimpin, tulisnya lagi, harus menghindari 3 hal yang sangat berbahaya
karena mudah menipunya yaitu, kekuasaan, kekuatan dan kesenangan akan
pendapat serta pengetahuaannya sendiri. Akan hal ini. Si jelita yang
gagah berani, Antigone puteri Oedipus dalam Mitologi Yunani juga
menyatakan dalam kecamannya terhadap Kreon, sang penguasa Tebes: “
Kelemahan seorang tiran, melakukan apa saja yang dipikirnya cocok tanpa
banyak mendengar pikiran rakyatnya”.
Dalam konteks
kekinian, khususnya dalam era modern, orang sering terbuai dengan
survai-survai ilmiah mengenai pendapat rakyat tentang sesuatu hal, yang
bukan tidak mungkin juga tentang survai pendapat rakyat Yogya terhadap
pemilihan Gubernur. Beberapa survai yang dilakukan dengan pengambilan
responden ratusan orang dan sampling error sekitar 5%, seringkali cepat
dipercaya 100% sudah merupakan pikiran rakyat. Sebagai orang yang pada
tahun 80-an dan 90-an telah banyak melakukan survai semacam itu,
sementara belum banyak lembaga-lembaga swasta lain yang melakukan, ada
beberapa hal yang harus sangat-sangat dicermati sebelum memanfaatkan
hasil survai. Pertama, motivasi, independensi dan subyektivitas
pelaksana survai. Kedua, kejujuran pengambil dan pengambilan sample.
Ketiga, tetap harus mencermati faktor X, karena betapa pun, survai itu
bukan referendum yang dilakukan terhadap seluruh rakyat.
Semoga catatan dan sedikit pengalaman ini, dapat menjadi “kaca benggala”, minimal bacaan ringan yang bermanfaat.
Beji, 02 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar