Senin, 30 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (4) KOPASSANDHA TUMPAS PEMBAJAKAN HANYA 3 MENIT.

 


Versi Pendek

Senin malam 30 Maret 1981, setelah pembicaraan terakhir antara #JenderalYoga dan pembajak, #HermanRante dan #HedhyJuwantoro merasa tenang. Sejak hari Sabtu, mereka tidak tidur sekejap pun. Herman duduk dengan santai, kakinya naik ke atas. Kini mereka berdua terlena dalam buaian

malam, sampai tiba-tiba Hedhy terbangun karena kejatuhan pecahan-pecahan kaca, sementara angin mengembus dari samping menerpa wajahnya.

 

Dalam waktu yang bersamaan, Hedhy mendengar suara pletak-pletok, seperti bunyi letusan senapan dengan peredam suara.

 

Dengan latar belakang keluarga militer, Hedhy segera menyadari, tembak-menembak sedang terjadi.

Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk diam, tidak berani menoleh, agar tidak terkena peluru nyasar, atau memancing kecurigaan pihak-pihak yang tengah terlibat dalam tembak-menembak. Hedhy

berlindung dalam kursinya.

 

Tetapi tidak demikian halnya dengan Herman Rante. Ketika ia mulai hendak menggerakkan badannya, Hedhy berbisik, “Stay down, Stay down.”

Maksudnya, tetaplah duduk merunduk saja.

 

Tuhan memang menghendaki lain. Herman bergerak bangkit. Tidak ayal lagi sebutir peluru menembus kepalanya. “Saya kena, Hed,” keluh Herman seraya menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sandaran kursi.

Kemudian Hedhy meraba kening Herman dan merasakan ada benjolan kecil, serta lubang kecil menganga di bagian belakang kiri bawah dekat telinga.

 

Hampir bersamaan terdengar teriakan. “Di sini pasukan Komando dari Indonesia. Kami menyelamatkan saudara-saudara.”.

 

Demikianlah, drama pembajakan berakhir. Peristiwa ini mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.

Korban yang jatuh pun tidak seperti yang diperkirakan, yakni 40 persen dari seluruh penumpang. Enam belas peti mati yang sudah dipesan

bersyukur tidak seluruhnya terpakai. Korban  tewas Kapten Pilot Herman Rante, anggota Kopassandha Letnan #AchmadKirang dan para pembajak.

 

Semua keberhasilan itu berkat kerja keras dalam suatu koordinasi  yang rapi dari #LaksamanaSudomo di Komando Krisis Jakarta, #YogaSugomo yang dibantu #HasnanHabib di Komando Krisis Don Muang, serta Jenderal #BennyMoerdani—si penentu keberhasilan yang memimpin penyerbuan 3 menit.

 

Tak kalah penting adalah Tim Anti Teror  Kopassandha yang dipimpin  Letkol  #SintongPanjaitan.

(Selengkapnya di facebook #BambangWiwoho).

 

#OperasiWoyla #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

 

 

 

 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda