Operasi Woyla 45 Tahun Silam (2) SEMULA DIKIRA SHOOTING FILM
Sebelum bersama Kapten Pilot #HermanRante
harus menerbangkan pesawat Garuda GA 206 Woyla dengan rute
Jakarta-Palembang-Medan, Sabtu 28 2Maret 1981, Kopilot #HedhyJuwantoro tidak
mempunyai firasat apa-apa.
Demikian pula tatkala pesawat sudah
lepas landas dari Bandar Udara Talang
Betutu, Palembang, perasaan Hedhy biasa-biasa saja.
Seingat Hedhy, waktu itu pesawat sedang
dalam posisi lepas landas, dengan tanda “NO SMOKING” yang sudah padam, tetapi
tanda “FASTEN SEATBELT” masih menyala. Pesawat sedang bergerak dari ketinggian
sekitar 3.000 ke 4.000 kaki.
Tiba-tiba di belakang terdengar suara
ribut, dan dengan serta-merta Abu Sofyan masuk ke kokpit seraya menodongkan
pistol.
Hedhy yang sedang bertugas menerbangkan pesawat
tersenyum menyaksikan adegan tersebut. Ia tidak menyangka pesawat yang
dikemudikannya dibajak orang.
Sementara itu, Herman Rante diam saja, tidak mengerti
apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu, ia tetap menjalankan tugas komunikasi
ke tower, “Tower air bone, clear left turn, left turn.”
Saat pembajakan dimulai, menurut versi #pramugariLydia,
#Deliyanti, dan #RatnaWiyanaBarnas, adalah ketika Lydia sedang berdiri memegang
mic dan Deliyanti baru saja akan memperagakan cara-cara
penyelamatan penerbangan. Pada saat itulah terdengar
suara gaduh.
Belum paham tentang apa yang terjadi, tiba-tiba Abu
Sofyan menabrak Deliyanti, kemudian menabrak pula Lydia sehingga kepala Lydia
terbentur dinding pesawat di dekat jendela.
Dalam tempo yang amat singkat, Zulfikar pun telah
berdiri di depan dua pramugari tersebut dan menarik Deliyanti. Bagi ketiga
pramugari, pada mulanya mereka menganggap adegan tadi adalah shooting film.
Hanya yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak memberi
tahu lebih dulu.
Pemimpin pembajakan, yaitu Mahrizal, masuk ke kokpit
setelah memaklumkan pembajakan. Ia memerintahkan agar pesawat yang seyogianya
menuju Medan dibelokkan arah.
Semula #pembajakMahrizal minta agar pesawat
diterbangkan ke Kolombo, tetapi kedua pilot tersebut menjawab tidak bisa.
Mereka menawarkan untuk ke Singapura saja, Mahrizal menolak. Kemudian
ditawarkan ke Kuala Lumpur, juga ditolak. Pilot memberi tahu
kesulitan terbang ke luar negeri karena mereka tidak
memiliki peta dan rute penerbangannya. Di samping itu, persediaan bahan bakar
pun tidak cukup.
Mahrizal mengatakan, “Pokoknya terbang sejauh-jauhnya
dari Indonesia.”
(selengkapnya di facebook
#BambangWiwoho) #BWiwoho #OperasiWoyla #YogaSugomo #JenderalYoga
#LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda