Sabtu, 28 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (2) SEMULA DIKIRA SHOOTING FILM

 


 

Sebelum bersama Kapten Pilot #HermanRante harus menerbangkan pesawat Garuda GA 206 Woyla dengan rute Jakarta-Palembang-Medan, Sabtu 28 2Maret 1981, Kopilot #HedhyJuwantoro tidak mempunyai firasat apa-apa.

 

Demikian pula tatkala pesawat sudah

lepas landas dari Bandar Udara Talang Betutu, Palembang, perasaan Hedhy biasa-biasa saja.

Seingat Hedhy, waktu itu pesawat sedang dalam posisi lepas landas, dengan tanda “NO SMOKING” yang sudah padam, tetapi tanda “FASTEN SEATBELT” masih menyala. Pesawat sedang bergerak dari ketinggian sekitar 3.000 ke 4.000 kaki.

 

Tiba-tiba di belakang terdengar suara ribut, dan dengan serta-merta Abu Sofyan masuk ke kokpit seraya menodongkan pistol.

Hedhy yang sedang bertugas menerbangkan pesawat tersenyum menyaksikan adegan tersebut. Ia tidak menyangka pesawat yang

dikemudikannya dibajak orang.

 

Sementara itu, Herman Rante diam saja, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu, ia tetap menjalankan tugas komunikasi ke tower, “Tower air bone, clear left turn, left turn.”

 

Saat pembajakan dimulai, menurut versi #pramugariLydia, #Deliyanti, dan #RatnaWiyanaBarnas, adalah ketika Lydia sedang berdiri memegang mic dan Deliyanti baru saja akan memperagakan cara-cara

penyelamatan penerbangan. Pada saat itulah terdengar suara gaduh.

 

Belum paham tentang apa yang terjadi, tiba-tiba Abu Sofyan menabrak Deliyanti, kemudian menabrak pula Lydia sehingga kepala Lydia terbentur dinding pesawat di dekat jendela.

 

 

Dalam tempo yang amat singkat, Zulfikar pun telah berdiri di depan dua pramugari tersebut dan menarik Deliyanti. Bagi ketiga pramugari, pada mulanya mereka menganggap adegan tadi adalah shooting film.

Hanya yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak memberi tahu lebih dulu.

 

 

Pemimpin pembajakan, yaitu Mahrizal, masuk ke kokpit setelah memaklumkan pembajakan. Ia memerintahkan agar pesawat yang seyogianya

menuju Medan dibelokkan arah.

 

Semula #pembajakMahrizal minta agar pesawat diterbangkan ke Kolombo, tetapi kedua pilot tersebut menjawab tidak bisa. Mereka menawarkan untuk ke Singapura saja, Mahrizal menolak. Kemudian ditawarkan ke Kuala Lumpur, juga ditolak. Pilot memberi tahu

kesulitan terbang ke luar negeri karena mereka tidak memiliki peta dan rute penerbangannya. Di samping itu, persediaan bahan bakar

pun tidak cukup.

 

Mahrizal mengatakan, “Pokoknya terbang sejauh-jauhnya dari Indonesia.”

(selengkapnya di facebook #BambangWiwoho)                      #BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda