Minggu, 29 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (3): DUA SANDERA ASING KABUR & SATU DITEMBAK

 

(Versi panjang).

Pada hari pertama pembajakan, #HermanRante dan #HedhyJuwantoro merasa amat tegang. Mereka baru bisa agak tenang dan pasrah setelah ada kontak pembicaraan dengan Jenderal #YogaSugomo. Selesai kontak pertama dengan #JenderalYoga, mereka ganti merasa capai.

Ketegangan kembali melanda awak pesawat, juga para sandera – menjelang Minggu sore, tatkala satu per satu para sandera jatuh lemas karena udara di dalam pesawat panas dan pengap. Dalam suasana yang seperti itu, sewaktu melihat para pembajak berpelukan satu sama lain, mereka menduga pembajak telah bertekad untuk mati bersama dengan meledakkan pesawat.

Hedhy teringat, jika sedang tegang, Herman sebentar-sebentar mengusap dahi, sedangkan dia sendiri sebentar-sebentar mengecek frekuensi radio dan melihat peta rute penerbangan. Padahal, pesawat tetap nongkrong di landasan.

Suatu kali dalam suasana tegang, Hedhy bergerak ingin mengambil rokok yang berada di dalam tas di sebelah kanannya. Tahu-tahu pistol Mahrizal sudah menempel di kepala.

“Saya mau merokok. Boleh enggak?” tanya Hedhy.

“Rokoknya apa?” balas Mahrizal.

“Jisamsu.”

“Okey”

Selama drama pembajakan, sesungguhnya berulang kali Hedhy memperoleh kesempatan emas untuk melarikan diri, di samping beberapa kesempatan kecil lainnya. Namun, entah mengapa, ia tidak tega meninggalkan tanggung jawabnya sebagai kopilot begitu saja. Bukan sok pahlawan. Ia telah berangkat bersama-sama. Rasanya ingin juga pulang bersama-sama.

Kesempatan emas pertama sudah diperoleh di Penang sewaktu pesawat mengisi bahan bakar. Pada saat itu, Hedhy disuruh turun dari sebelah kiri pesawat untuk mengawasi pengisian bahan bakar. Mahrizal memang mengawasi dari atas dengan menggenggam pistol. Namun, Hedhy tidak hanya di sebelah kiri pesawat. Hedhy telah bergerak bebas ke sayap kanan. Di sinilah peluang pertama muncul.

Kesempatan berikutnya tiba tatkala Hedhy disuruh menutup pintu darurat yang dibuka Robert Wainwright untuk melarikan diri. Hedhy sempat keluar dari pesawat melalui pintu tersebut.

Peluang emas berikutnya, atau kalau ada istilah lain, bahkan lebih dari emas, berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, dari sekitar pukul 17.00 sampai dengan sekitar pukul 20.00 hari Minggu. Waktu itu Hedhy sedang bertugas mengawasi pengisian bahan bakar. Ia jongkok di depan pintu darurat di kanan depan,sementara Abu Sofyan mengawasi di belakangnya. Pada saat itulah sandera Carl S. Schneider yang duduk di barisan kiri depan di kursi paling kanan bergerak untuk memanfaatkan giliran menghirup udara segar. Namun, secara mendadak ia lari menyerobot ke pintu darurat yang dibuka Hedhy, mendorong Abu Sofyan sehingga bibir Abu terluka. Serta-merta, Abu Sofyan bereaksi menarik picu pistolnya dua kali, menembak Schneider. Peluru berdesing di atas kepala Hedhy, selanjutnya menembus badan Schneider yang sempat pula menindih badan Hedhy, sebelum jatuh terempas di tarmak atau landasan.

Bagaikan dikomando, petugas pengisi bahan bakar dan oli lari pontang-panting menjauhi pesawat. Mendengar letusan senjata, Mahrizal yang sedang berada di belakang lari ke depan, kemudian menarik Hedhy dan menyuruhnya kembali ke kokpit. Kepada Abu Sofyan, Mahrizal marah sekali. Ia membentak:

“Belum ada perintah menembak, kenapa menembak?”

“Saya didorong sampai bibir saya berdarah,” jawab Abu Sofyan seraya menutup pintu darurat.

Dari jendela kokpit, Hedhy melihat Schneider menggelepar-gelepar. Menyaksikan sesama umat tersiksa seperti itu, Hedhy bertanya kepada Mahrizal.

“Itu orang masih hidup. Apa mau dibiarin mati?”

“Okey, kamu turun,” kata Mahrizal.

Setelah mendapat izin, Hedhy kembali membuka pintu darurat dan turun melalui sayap pesawat. Di bawah ia memeriksa keadaan Schneider, kemudian berteriak memanggil palang merah. Mendengar panggilan Hedhy tadi, Mahrizal sempat berteriak, “Jangan lebih dari dua orang.”

Memenuhi seruan Hedhy, akhirnya dua petugas Palang Merah Thai datang walaupun dengan gemetar ketakutan. Akibatnya, sewaktu mengangkat Schneider, mereka kurang memperhatikan posisi korban sehingga korban sempat berteriak-teriak kesakitan.

Hedhy Juwantoro ikut mengusung Schneider dengan tandu, bahkan menemani petugas palang merah sampai ke pos pengawasan. Di pos ini ia bertemu Manajer Garuda Stasiun Don Muang dan para petugas keamanan. Karena agak lama di pos, Mahrizal berteriak-teriak memanggilnya, “Juwantoro, Juwantoro!”

Hedhy kembali ke pesawat dan melihat Mahrizal dengan bertelanjang dada mondar-mandir di sayap pesawat, kemudian membantu Hedhy naik ke pesawat melalui sayap.

Suasana di pesawat masih sangat panas karena auxiliary power unit atau pembangkit tenaga listrik tambahan untuk menggerakkan mesin pendingin ruangan belum dapat dihidupkan. Herman, Hedhy, dan Mahrizal merundingkan cara meneruskan pengisian bahan bakar dan oli. Mula-mula, baik Mahrizal maupun Manajer Garuda Suparno di Komando Krisis meminta agar kopilot saja yang meneruskan. Namun, Herman dan Hedhy menolaknya sebab bisa sangat berbahaya mengingat Hedhy tidak menguasai tata caranya. Sedangkan para petugas belum berani kembali meneruskan pengisian.

Akhirnya, dengan jaminan Herman kepada Suparno di Komando Krisis melalui pembicaraan dengan baterai cadangan, serta Hedhy yang turun sekali lagi dan mendatangi para petugas di pos pengawasan, pengisian bahan bakar dan oli dapat dilanjutkan dan diselesaikan.

Dalam kesempatan ini, Hedhy beberapa kali bolak-balik antara pesawat dan pos pengawasan. Sementara itu, karena hari sudah malam sehingga pemandangan menjadi gelap, Mahrizal membekali Hedhy sebuah lampu senter. Jika menuju ke pesawat, Hedhy diminta memberikan kode melalui nyala lampu senter, yaitu flash tiga kali, nyala-mati, nyala-mati, nyala-mati.

Dalam kegelapan malam dan kesempatan yang seperti itu, dengan mudah Hedhy bisa lari dan tidak kembali ke pesawat. Namun, itu tidak dilakukannya. Kewajiban dan tanggung jawab menuntunnya kembali ke kokpit dalam todongan pistol dan acungan kampak Abu Sofyan atau Zulfikar. Padahal ia memiliki banyak kesempatan yang jauh lebih baik, lebih mudah serta aman dibanding Robert Wainwright apalagi Carl Schneider.

 

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas #HermanRante  #HedhyJuwantoro

 

 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda