MESKI MARAH & MALU, PRESIDEN SOEHARTO PENUHI TUNTUTAN MALARI
Orde Baru mengoreksi Strategi Pembangunan dari betitik berat ke pertumbuhan menjadi pemerataan pembangunan.
(versi IG)
KERUSUHAN sosial yang
membakar Jakarta tatkala sedang berlangsung kunjungan kenegaraan Perdana
Menteri Jepang – 14 Januaru 1974 -- mempermalukan aparat intelijen, ketertiban,
dan keamanan. Dengan segera dilakukan perombakan besar, terutama di jajaran aparat
keamanan dan intelijen.
Meskipun Pak Harto merasa
malu dan kecewa, bahkan marah, sebagaimana tersirat dalam pidato akhir tahun
1974, yang menyebut #PeristiwaMalari sebagai peristiwa pengacauan, toh ia
memperhatikan dengan saksama aspirasi mahasiswa yang menuntut dilakukannya
koreksi terhadap strategi pembangunan yang terlalu meng utamakan pertumbuhan.
Dalam Sidang Kabinet
seminggu setelah Peristiwa Malari, yaitu Selasa, 22 Januari 1974, pemerintah
menggariskan kebijakan terobosan yang cukup mendasar di bidang penanaman modal
dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.
Menteri Penerangan
Mashuri menjelaskan kepada wartawan di #BinaGraha, dalam bidang penanaman modal
ditetapkan penanaman modal asing harus berbentuk usaha patungan dengan pemodal
pribumi. Sidang juga menggariskan kebijakan pola hidup sederhana bagi para
pejabat sipil dan militer, aparatur pemerintahan dan perusahaan-perusahaan
negara, baik di pusat maupun di daerah.
Selanjutnya, pada tanggal
11 Februari 1974, dibentuk Dewan Pembina Pengembangan Pengusaha Pribumi, dan
kemudian saat memasuki #RepelitaII (1974–1979) dikeluarkan Peraturan Pemerintah
yang mengakhiri kegiatan usaha asing dalam bidang perdagangan.
Dengan cepat juga
digariskan berbagai kebijakan di berbagai bidang yang bertujuan memeratakan
pembangunan dan hasil-hasilnya, serta memfalitasi pengembangan usaha kecil, koperasi
dan pribumi, antara lain penyediaan #kreditkecil
dan pedesaan, perlindungan investasi, berbagai #ProyekInpres untuk sekolah,
kesehatan, pasar sampai dengan prasarana pedesaan. Juga gerakan fasilitas menabung
bagi rakyat kecil.
Program-program tersebut
dirumuskan dalam suatu strategi besar pembangunan yang disebut #TrilogiPembangunan
yang, menggariskan masalah pemerataan sebagai batu pijakan. (Lebih lengkap
facebook #BambangWiwoho dan buku 1 trilogi #TonggakTonggakOrdeBaru, #BWiwoho, #PenerbitBukuKompas)


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda