Operasi Woyla 45 Tahun Silam (1) KEPALA KO-PILOT HEDHY DITODONG PISTOL
Tepat 45 tahun yang lalu, Sabtu 28 Maret
1981.
Pesawat
berkapasitas 102 penumpang buatan McDonnel Douglas itu, dengan perkasa menembus
segumpal awan kumulus di lapisan troposphere di rentang atas Sungai Batanghari.
Kapten Pilot #HermanRante baru saja selesai mengatur
stabilisator vertikal. Dengan sekejap, disapukannya matanya ke panil instrumen
di depannya. Ketika hendak mencocokkan heading
atau arah pesawat, diliriknya ko-pilot #HedhyJuwantoro yang tengah menarik flight plan. Keduanya tersenyum. Semua
indikator menunjukkan bahwa instrumen-instrumen pesawat bekerja secara
sempurna. Bagi Hedhy yang sejak semalam agak kurang enak badan, keadaan itu
sungguh menggembirakan.
Dengan kecepatan terbang sekitar 600 mil per jam, ia
sudah pasti akan mencapai Medan tepat sesuai skedul, pukul 10.55. Dan bila
selanjutnya juga berjalan lancar, maka tugas hari Sabtu itu
akan segera berakhir. Ia bakal bisa segera beristirahat.
Tetapi, belum sempat ia membaca kolom-kolom lintasan
terbang di flight plan, di kabin di belakangnya terdengar suara ribut-ribut.
”Jangan bergerak! Jangan bergerak!” Siapa yang bergerak akan saya tembak! Pesawat ini dibajak!”. Tak percaya pada
pendengarannya, kedua pilot tersebut hampir bersamaan menengok ke belakang.
Masya Allah! Seseorang berkulit kuning bersih, bertubuh
jangkung untuk ukuran Indonesia, berdiri di pintu kokpit menodongkan pistol ke
kepalanya. Hedhy mencoba mengedipkan mata. Semalam susah tidur. Barangkali kini
terlena dan bermimpi. Tatkala seseorang yang kemudian diketahuinya adalah Abu
Sofyan itu untuk kedua kalinya mengokang pistol FN dan satu peluru jatuh
keluar, ia sadar ini adalah kejadian yang sesungguhnya. Ia paham betul itu
pistol otomatis yang sangat peka, yang jika sudah dikokang dan terkena benturan
sedikit saja akan bisa meletus, dan meremukkan kepala. Naudzubillah.
Di kabin pesawat, para penumpang dan pramugari bengong
menghadapi keadaan. Hiromi Higa, penumpang berkebangsaan Jepang tidak
memahami apa yang sedang terjadi. Sebagian
yang lain menyangka, satu regu alat negara sedang menangkap buronan.
Penumpang Anwar yang duduk di kursi nomor 2E, masih tetap
memejamkan mata. “Aaahhh...... keterlaluan,
main-main di udara”, katanya dalam hati. Namun
mengapa semua harus pakai angkat tangan segala? Tiba-tiba sebuah benda dingin
terasa menyentuh keningnya. Dibukanya matanya yang sudah hendak tidur tadi.
Astaghfirullah ! Benda itu adalah sepucuk senjata api yang berada dalam
genggaman seseorang yang bercambang dan berjenggot lebat. Sorot matanya begitu tajam. Tampang orang
asing. Serasa copot seluruh persendiannya, tatkala kemudian ingatannya sampai
pada sepak terjang teroris-teroris internasional. Tangan bagaikan dibanduli
beban seribu kilo. Toh ia harus mampu mengangkatnya bila tak ingin ditembus
melinjo panas. Pelan dan gemetar. Diikutinya perintah agar pindah duduk
ke belakang. Sempat dengan sudut matanya, dilihatnya seorang pramugari sudah
menitikkan air mata, juga digebah berjalan ke belakang.
Selanjutnya posisi tempat duduk juga dipisah. Para
penumpang yang semula duduk terpencar sesuai nomer kursinya, dikumpulkan
merapat ke depan. Laki-laki di sebelah kiri
gang kecuali yang orang asing, sedangkan perempuan di bagian kanan.
Sementara itu kedua tangan harus diangkat dan diletakkan di atas atau di bagian
belakang kepala. Entah sampai kapan? (Bersambung)
#BWiwoho #OperasiWoyla
#YogaSugomo #JenderalYoga #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas
#HermanRante
#HedhyJuwantoro


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda