Jumat, 27 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (1) KEPALA KO-PILOT HEDHY DITODONG PISTOL



 

Tepat 45 tahun yang lalu, Sabtu 28 Maret 1981.

Pesawat berkapasitas 102 penumpang buatan McDonnel Douglas itu, dengan perkasa menembus segumpal awan kumulus di lapisan troposphere di rentang atas Sungai Batanghari.

Kapten Pilot #HermanRante baru saja selesai mengatur stabilisator vertikal. Dengan sekejap, disapukannya matanya ke panil instrumen di depannya. Ketika hendak mencocokkan heading atau arah pesawat, diliriknya ko-pilot #HedhyJuwantoro yang tengah menarik flight plan. Keduanya tersenyum. Semua indikator menunjukkan bahwa instrumen-instrumen pesawat bekerja secara sempurna. Bagi Hedhy yang sejak semalam agak kurang enak badan, keadaan itu sungguh menggembirakan.

 

Dengan kecepatan terbang sekitar 600 mil per jam, ia sudah pasti akan mencapai Medan tepat sesuai skedul, pukul 10.55. Dan bila selanjutnya juga berjalan lancar, maka tugas hari Sabtu itu akan segera berakhir. Ia bakal bisa segera beristirahat.

 

Tetapi, belum sempat ia membaca kolom-kolom lintasan terbang di flight plan, di kabin di belakangnya terdengar suara ribut-ribut. ”Jangan bergerak! Jangan bergerak!” Siapa yang bergerak akan saya tembak! Pesawat ini dibajak!”. Tak percaya pada pendengarannya, kedua pilot tersebut hampir bersamaan menengok ke belakang.

 

Masya Allah! Seseorang berkulit kuning bersih, bertubuh jangkung untuk ukuran Indonesia, berdiri di pintu kokpit menodongkan pistol ke kepalanya. Hedhy mencoba mengedipkan mata. Semalam susah tidur. Barangkali kini terlena dan bermimpi. Tatkala seseorang yang kemudian diketahuinya adalah Abu Sofyan itu untuk kedua kalinya mengokang pistol FN dan satu peluru jatuh keluar, ia sadar ini adalah kejadian yang sesungguhnya. Ia paham betul itu pistol otomatis yang sangat peka, yang jika sudah dikokang dan terkena benturan sedikit saja akan bisa meletus, dan meremukkan kepala. Naudzubillah.

 

Di kabin pesawat, para penumpang dan pramugari bengong menghadapi keadaan. Hiromi Higa, penumpang berkebangsaan Jepang tidak memahami apa yang sedang terjadi. Sebagian yang lain menyangka, satu regu alat negara sedang menangkap buronan.

 

Penumpang Anwar yang duduk di kursi nomor 2E, masih tetap memejamkan mata. “Aaahhh...... keterlaluan, main-main di udara”, katanya dalam hati. Namun mengapa semua harus pakai angkat tangan segala? Tiba-tiba sebuah benda dingin terasa menyentuh keningnya. Dibukanya matanya yang sudah hendak tidur tadi. Astaghfirullah ! Benda itu adalah sepucuk senjata api yang berada dalam genggaman seseorang yang bercambang dan berjenggot lebat. Sorot matanya begitu tajam. Tampang orang asing. Serasa copot seluruh persendiannya, tatkala kemudian ingatannya sampai pada sepak terjang teroris-teroris internasional. Tangan bagaikan dibanduli beban seribu kilo. Toh ia harus mampu mengangkatnya bila tak ingin ditembus melinjo panas. Pelan dan gemetar. Diikutinya perintah agar pindah duduk ke belakang. Sempat dengan sudut matanya, dilihatnya seorang pramugari sudah menitikkan air mata, juga digebah berjalan ke belakang.

 

Selanjutnya posisi tempat duduk juga dipisah. Para penumpang yang semula duduk terpencar sesuai nomer kursinya, dikumpulkan merapat ke depan. Laki-laki di sebelah kiri  gang kecuali yang orang asing, sedangkan perempuan di bagian kanan. Sementara itu kedua tangan harus diangkat dan diletakkan di atas atau di bagian belakang kepala. Entah sampai kapan? (Bersambung)                      

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

#HermanRante

#HedhyJuwantoro

 

 

 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda