Operasi Woyla 45 Tahun Silam (3) DUA SANDERA ASING KABUR, SATU DITEMBAK
Pada hari pertama pembajakan, #HermanRante dan
#HedhyJuwantoro merasa amat tegang. Mereka baru bisa agak tenang dan pasrah setelah
ada kontak pembicaraan dengan Jenderal #YogaSugomo. Selesai
kontak pertama dengan #JenderalYoga, mereka ganti
merasa capai.
Ketegangan kembali melanda awak pesawat, juga para
sandera – menjelang Minggu sore, tatkala satu per satu para sandera jatuh lemas
karena udara di dalam pesawat panas dan pengap. Dalam suasana yang seperti itu,
sewaktu melihat para pembajak berpelukan
satu sama lain, mereka menduga pembajak telah bertekad untuk mati bersama
dengan meledakkan pesawat.
Hedhy
teringat, jika sedang tegang, Herman sebentar-sebentar mengusap dahi, sedangkan
dia sendiri sebentar-sebentar mengecek
frekuensi radio dan melihat peta rute penerbangan.
Padahal, pesawat tetap nongkrong di landasan.
Selama drama pembajakan, sesungguhnya berulang kali
Hedhy memperoleh kesempatan emas untuk melarikan diri, di samping beberapa
kesempatan kecil lainnya. Namun, entah mengapa, ia tidak tega meninggalkan
tanggung jawabnya sebagai kopilot begitu saja. Bukan sok pahlawan. Ia telah
berangkat bersama-sama. Rasanya ingin juga pulang bersama-sama.
Kesempatan emas pertama sudah diperoleh di Penang
sewaktu pesawat mengisi bahan bakar. Pada saat itu, Hedhy disuruh turun
dari pesawat untuk mengawasi pengisian bahan bakar.
.
Kesempatan berikutnya tiba tatkala Hedhy disuruh
menutup pintu darurat yang dibuka Robert Wainwright untuk melarikan diri.
Hedhy sempat keluar dari pesawat melalui pintu
tersebut.
Peluang emas berikutnya, atau kalau ada istilah lain,
bahkan lebih dari emas, berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, dari
sekitar pukul 17.00 sampai dengan sekitar pukul 20.00 hari Minggu. Mengapa?
(Selengkapnya
di facebook #BambangWiwoho)
#BWiwoho #OperasiWoyla #YogaSugomo #JenderalYoga
#LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda