Rabu, 01 April 2026

Mengenang Operasi Woyla 45 Tahun Silam (5): KESAN DAN SARAN SANDERA ASING

 

Pembebasan pembajakan pesawat Garuda Woyla yang oleh penulis B.Wiwoho atas persetujuan Jenderal Yoga Sugomo, dinamai Operasi Woyla, dan kemudian dijadikan judul buku, berlangsung super kilat, 3 menit pada Selasa menjelang dinir hari, 31 Maret 1981.

 

Bagi #pramugariDeliyanti, hari pembebasan itu sangat istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-21.

Peristiwa luar biasa itu dirayakan sederhana dengan berfoto bersama – anggota Pasukan Komanda, awak pesawat Woyla dan awak pesawat yang membawa mereka pulang kembali ke Tanah Air

 

Alhamdulillah, Puji Tuhan, Rabu 1 April 2026 bertempat di Sanggar #SulukNusantara, Depok, Dirut Garuda #GlennyKairupan beserta staf, Wakil Pimpinan Umum Kompas P.#TriAgungKristanto beserta staf, anggota DPR Komisi V Sofwan Dedy Ardyanto dan sejumlah sahabat dekat, berkesempatan silaturahmi seraya mensyukuri ulang tahun Deliyanti, juga ultah Hedhy Juwantoro (22 Maret).

 

TIGA HAL PENTING

 

Dalam suatu silaturahmi mengenang peristiwa pembajakan pesawat Woyla 28 Maret 2016, yang diselenggarakan Onto Subagyo HS, yaitu putera mantan Kepala Staf Angkatan Darat #JenderalSubagyo yang pada saat operasi pembebasan pesawat bertugas sebagai penembak tepat, mantan sandera warga negara Amerika Serikat, #ThomasRHeischman, menyatakan terima kasihnya kepada semua pihak yang terlibat dalam operasi pembebasan mulai dari Laksamana Sudomo dengan Pusat Pengendalian Krisisnya di Jakarta, Jenderal Yoga Sugomo dengan timnya di Pusat Pengendalian Krisis di Don Muang sampai dengan para pasukan komandonya.

 

“Sebuah rangkaian operasi yang hebat,” katanya. Kepada para purnawirawan pasukan komando yang hadir ia menambahkan, “ Terima kasih sehingga saya masih hidup sampai sekarang.”  Pada hemat Tom Heischman, sayang sekali bersamaan dengan itu juga terjadi peristiwa penembakan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan. Jika tidak niscaya berita pembebasan pesawat Woyla akan menjadi berita utama di suratkabar-suratkabar internasional.

 

Dua hal lain yang ia sampaikan untuk menjadi bahan pengalaman dan pelajaran bagi peristiwa-peristiwa semacam ini adalah, pertama, pentingnya peranan negosiator atau juru runding. Dalam hal peristiwa Woyla, dilakukan oleh Jenderal Yoga Sugomo dengan sangat hebat. Pendapat ini dikuatkan oleh Hedhy. Pak Yoga pada hemat mereka berdua pandai melakukan buying time dengan sabar dan percaya diri. Dari semula di maki-maki secara kasar, dihina dengan sumpah serapah, tapi tidak terpancing emosinya. Pelan-pelan Yoga Sugomo membalikkan situasi sampai pembajak menurut dan memanggilnya Jenderal.

 

Kedua, pentingnya dilakukan penanganan trauma healing  atau pendampingan psikologis kepada para sandera setelah pembajakan selesai. Thomas R.Heischman melihat, begitu pembebasan selesai seorang penumpang berkewarganegaraan asing sudah terlihat shock dan stress. Seorang penumpang yang lain juga berbulan-bulan mengalami stress.

 

Rasa terima kasih Tom Heischman kepada Pemerintah Indonesia, diungkapkan tiga bulan setelah pembajakan dengan mengunjungi dan mengucapkan terima kasih kepada Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Laksamana Sudomo selaku pimpinan puncak Pusat Pengendalian Krisis.

 

Itu penilaian dan Kesan sandera warga negara asing. Bagaimana penilaian kita anak bangsa Indonesia. Bersambung. (lebih lengkap dan mendalam silahkan baca 2 buku #BWiwoho, #OperasiWoyla dan buku #JenderalYoga, #LoyalisdiBalikLayar,   #PenerbitBukuKompas).

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda