Mengenang Operasi Woyla 45 Tahun Silam (5): KESAN DAN SARAN SANDERA ASING
Pembebasan pembajakan pesawat Garuda Woyla yang oleh penulis B.Wiwoho atas persetujuan Jenderal Yoga Sugomo, dinamai Operasi Woyla, dan kemudian dijadikan judul buku, berlangsung super kilat, 3 menit pada Selasa menjelang dinir hari, 31 Maret 1981.
Bagi
#pramugariDeliyanti, hari pembebasan itu sangat istimewa karena bertepatan
dengan hari ulang tahunnya yang ke-21.
Peristiwa
luar biasa itu dirayakan sederhana dengan berfoto bersama – anggota Pasukan
Komanda, awak pesawat Woyla dan awak pesawat yang membawa mereka pulang kembali
ke Tanah Air
Alhamdulillah,
Puji Tuhan, Rabu 1 April 2026 bertempat di Sanggar #SulukNusantara, Depok, Dirut
Garuda #GlennyKairupan beserta staf, Wakil Pimpinan Umum Kompas P.#TriAgungKristanto beserta staf, anggota DPR Komisi V Sofwan Dedy Ardyanto dan sejumlah
sahabat dekat, berkesempatan silaturahmi seraya mensyukuri ulang tahun
Deliyanti, juga ultah Hedhy Juwantoro (22 Maret).
TIGA
HAL PENTING
Dalam
suatu silaturahmi mengenang peristiwa pembajakan pesawat Woyla 28 Maret 2016,
yang diselenggarakan Onto Subagyo HS, yaitu putera mantan Kepala Staf Angkatan
Darat #JenderalSubagyo yang pada saat operasi pembebasan pesawat bertugas
sebagai penembak tepat, mantan sandera warga negara Amerika Serikat, #ThomasRHeischman,
menyatakan terima kasihnya kepada semua pihak yang terlibat dalam operasi
pembebasan mulai dari Laksamana Sudomo dengan Pusat Pengendalian Krisisnya di
Jakarta, Jenderal Yoga Sugomo dengan timnya di Pusat Pengendalian Krisis di Don
Muang sampai dengan para pasukan komandonya.
“Sebuah
rangkaian operasi yang hebat,” katanya. Kepada para purnawirawan pasukan
komando yang hadir ia menambahkan, “ Terima kasih sehingga saya masih hidup
sampai sekarang.” Pada
hemat Tom Heischman, sayang sekali bersamaan dengan itu juga terjadi peristiwa
penembakan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan. Jika tidak niscaya
berita pembebasan pesawat Woyla akan menjadi berita utama di
suratkabar-suratkabar internasional.
Dua hal
lain yang ia sampaikan untuk menjadi bahan pengalaman dan pelajaran bagi
peristiwa-peristiwa semacam ini adalah, pertama, pentingnya peranan negosiator
atau juru runding. Dalam hal peristiwa Woyla, dilakukan oleh Jenderal Yoga
Sugomo dengan sangat hebat. Pendapat ini dikuatkan oleh Hedhy. Pak Yoga pada
hemat mereka berdua pandai melakukan buying
time dengan sabar dan percaya diri. Dari semula di maki-maki secara kasar,
dihina dengan sumpah serapah, tapi tidak terpancing emosinya. Pelan-pelan Yoga
Sugomo membalikkan situasi sampai pembajak menurut dan memanggilnya Jenderal.
Kedua,
pentingnya dilakukan penanganan trauma
healing atau pendampingan psikologis
kepada para sandera setelah pembajakan selesai. Thomas R.Heischman melihat,
begitu pembebasan selesai seorang penumpang berkewarganegaraan asing sudah
terlihat shock dan stress. Seorang
penumpang yang lain juga berbulan-bulan mengalami stress.
Rasa
terima kasih Tom Heischman kepada Pemerintah Indonesia, diungkapkan tiga bulan
setelah pembajakan dengan mengunjungi dan mengucapkan terima kasih kepada
Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Laksamana Sudomo
selaku pimpinan puncak Pusat Pengendalian Krisis.
Itu
penilaian dan Kesan sandera warga negara asing. Bagaimana penilaian kita anak
bangsa Indonesia. Bersambung. (lebih lengkap dan mendalam silahkan baca 2 buku
#BWiwoho, #OperasiWoyla dan buku #JenderalYoga, #LoyalisdiBalikLayar, #PenerbitBukuKompas).
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda