Operasi Woyla 45 Tahun Silam (4) KOPASSANDHA TUMPAS PEMBAJAKAN HANYA 3 MENIT.
31 Maret
1981, Selasa 02.20
Sementara
Hedhy tidak memiliki firasat dan perasaan apa-apa, baik sebelum maupun selama
pembajakan berlangsung, tidak
demikian
halnya dengan Herman Rante. Herman seolah-olah sudah merasa masa itu adalah
hari-hari terakhirnya. Ia tampak sangat
murung, dan
kepada Hedhy banyak bercerita mengenai keluarganya; mengenai kerinduannya;
mengenai istrinya, Satina Rante; mengenai ketiga anaknya, Angki, Faldi, dan
Noya.
Di kemudian hari, Satina Rante menceritakan kepada
penulis, beberapa hari sebelum pembajakan, Herman mengajaknya membeli durian ke
Pancoran. Tatkala mobil yang dikendarainya berdua keluar dari Kompleks
Perumahan Garuda di daerah Kalibata, menyusuri Jalan Raya Pasar Minggu dan
melewati samping Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Herman menunjuk ke arah
TMP seraya berkata, “Mah, lihat nanti papa dimakamkan di sana, dan ribuan orang
mengantarkan,” yang kemudian dia balas, “Memangnya papa siapa?”
Satina juga teringat kisah saudaranya yang bertamu dan
menginap di rumahnya Jumat malam Sabtu tanggal 28 Maret 1981. Malam itu Satina
tidur cepat karena kelalahan seharian antar jemput anak-anak ke sekolah dan
beberapa urusan lain, sementara menurut saudaranya, sampai lewat tengah malam
Herman masih duduk termenung sendirian di keremangan ruang keluarga. Rupanya Herman sudah memperoleh firasat.
Semula Hedhy Juwantoro pun terpengaruh dengan suasana tegang pembajakan. Juga
terbayang
isteri yang sudah dinikahinya setahun lalu, baru beberapa hari berselang
dinyatakan dokter positif hamil. Namun, ia segera teringat kiat menghadapi
stres yang diperolehnya tatkala mengikuti pendidikan semi militer untuk para
calon pilot Garuda selama empat bulan di Pusat Pendidikan Polisi Militer di
Cimahi, yakni pasrah.
Pada malam
terakhir pembajakan, yaitu Senin malam, Herman sempat berpesan kepada Hedhy.
“Hed, nanti kalau kita kembali ke
Jakarta, kita
pakai pakaian lengkap dengan topinya, ya.” Hedhy menjawab ajakan Herman
tersebut dengan senyuman.Pada hematnya, Herman ternyata memperhatikan kebiasaan
Hedhy yang selama ini kurang tertib dalam mengenakan pakaian seragam, yakni
jarang mengenakan topi, sementara kancing atas bajunya sering dibiarkan
terbuka. Ia tidak menyangka, Herman bakal pulang
ke Tanah Air
dalam suatu upacara yang megah dan khidmat dengan pakaian seragamnya, tetapi
penuh kesedihan.
Senin malam
itu, setelah pembicaraan terakhir antara Jenderal Yoga dan pembajak, Herman dan
Hedhy merasa tenang. Sejak hari
Sabtu, mereka
tidak tidur sekejap pun. Herman duduk dengan santai, kakinya naik ke atas. Kini
mereka berdua terlena dalam buaian
malam, sampai
tiba-tiba Hedhy terbangun karena kejatuhan pecahan-pecahan
kaca,
sementara angin mengembus dari samping menerpa wajahnya.
Dalam waktu
yang bersamaan, Hedhy mendengar suara pletak-pletok, seperti bunyi
letusan senapan dengan peredam suara.
Dengan latar
belakang keluarga dan lingkungan pergaulan militer, Hedhy segera menyadari,
tembak-menembak sedang terjadi.
Oleh sebab
itu, ia memutuskan untuk diam, tidak berani menoleh, agar tidak terkena peluru
nyasar, atau memancing kecurigaan
pihak-pihak yang tengah terlibat dalam tembak-menembak.
Hedhy
berlindung
dalam kursinya.
Tetapi tidak
demikian halnya dengan Herman Rante. Ketika ia mulai hendak
menggerakkan badannya, Hedhy berbisik, “Stay down,
Stay down.”
Maksudnya, tetaplah duduk merunduk saja.
Tuhan memang menghendaki lain. Herman bergerak
bangkit. Tidak ayal lagi sebutir
peluru menembus kepalanya. “Saya kena, Hed,” keluh
Herman seraya menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sandaran kursi.
Kemudian Hedhy meraba kening Herman dan merasakan ada semacam
benjolan kecil, serta lubang kecil menganga di bagian
belakang kiri bawah dekat telinga.
Hampir
bersamaan dengan itu terdengar teriakan. “Di sini pasukan
Komando dari
Indonesia. Kami menyelamatkan Saudara-saudara.”
Segera Hedhy disuruh menyalakan lampu. Karena tidak
segera bisa menyalakan lampu, lantaran panik, Hedhy sempat ditodong oleh
salah seorang anggota pasukan Komando.
“Kok, malah saya yang ditodong,” katanya dalam hati
yang kemudian diucapkannya kepada si penodong, “Saya kopilot, Pak,”
katanya seraya menunjukkan baju seragam pilot dengan
wing dan tanda-tanda penerbangannya. Dengan cepat, kesalahpahaman di gulita
malam itu teratasi.
Demikianlah, drama pembajakan berakhir. Peristiwa ini mengharumkan
nama Indonesia di dunia internasional. Duta besar-duta
besar Indonesia di luar negeri banyak mendapat ucapan
selamat.
Korban yang jatuh pun tidak seperti yang semula
diperkirakan, yakni 40 persen dari seluruh penumpang pesawat. Enam belas peti
mati yang sudah dipesan oleh sekretaris Suparno—Ny. Plengsri
Kiratipal—bersyukur
tidak seluruhnya terpakai. Korban tewas
Kapten Pilot Herman Rante, anggota Kopassandha Letnan #AchmadKirang dan para
pembajak.
Semua
keberhasilan itu berkat kerja keras dan
cermat dalam suatu koordinasi yang rapi dari #LaksamanaSudomo di Komando
Krisis Jakarta, #JenderalYoga yang
dibantu oleh #HasnanHabib
di Komando Krisis Don Muang, serta Jenderal #BennyMoerdani—si penentu
keberhasilan yang memimpin penyerbuan 3 menit—bertindak luar biasa tanpa
memejamkan mata sepicing pun, tanpa mandi dan ganti pakaian, serta tidak
beranjak
meninggalkan
tugas semenit pun. Juga dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam upaya
pembebasan pesawat tersebut, lebih-lebih Pemerintah Thailand yang menunjang
dengan segenap daya
dan kewenangannya.
Tidak kalah penting adalah pasukan Komando
itu sendiri, Tim Anti Teror Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha),
yang di lapangan dipimpin oleh Letnan Kolonel
#SintongPanjaitan. Keterampilan, kecepatan, dan ketepatan gerak mereka
mengukir sejarah Indonesia dengan tinta emas. (bersambung)
#BWiwoho #OperasiWoyla #YogaSugomo #JenderalYoga
#LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas
#HedhyJuwantoro
#SintongPanjaitan
#AchmadKirang

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda