Senin, 30 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (4) KOPASSANDHA TUMPAS PEMBAJAKAN HANYA 3 MENIT.

 






31 Maret 1981, Selasa 02.20

 

Sementara Hedhy tidak memiliki firasat dan perasaan apa-apa, baik sebelum maupun selama pembajakan berlangsung, tidak

demikian halnya dengan Herman Rante. Herman seolah-olah sudah merasa masa itu adalah hari-hari terakhirnya. Ia tampak sangat

murung, dan kepada Hedhy banyak bercerita mengenai keluarganya; mengenai kerinduannya; mengenai istrinya, Satina Rante; mengenai ketiga anaknya, Angki, Faldi, dan Noya.

 

Di kemudian hari, Satina Rante menceritakan kepada penulis, beberapa hari sebelum pembajakan, Herman mengajaknya membeli durian ke Pancoran. Tatkala mobil yang dikendarainya berdua keluar dari Kompleks Perumahan Garuda di daerah Kalibata, menyusuri Jalan Raya Pasar Minggu dan melewati samping Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Herman menunjuk ke arah TMP seraya berkata, “Mah, lihat nanti papa dimakamkan di sana, dan ribuan orang mengantarkan,” yang kemudian dia balas, “Memangnya papa siapa?”

 

Satina juga teringat kisah saudaranya yang bertamu dan menginap di rumahnya Jumat malam Sabtu tanggal 28 Maret 1981. Malam itu Satina tidur cepat karena kelalahan seharian antar jemput anak-anak ke sekolah dan beberapa urusan lain, sementara menurut saudaranya, sampai lewat tengah malam Herman masih duduk termenung sendirian di keremangan ruang keluarga. Rupanya Herman sudah memperoleh firasat.

 

Semula Hedhy Juwantoro pun terpengaruh dengan suasana tegang pembajakan. Juga

terbayang isteri yang sudah dinikahinya setahun lalu, baru beberapa hari berselang dinyatakan dokter positif hamil. Namun, ia segera teringat kiat menghadapi stres yang diperolehnya tatkala mengikuti pendidikan semi militer untuk para calon pilot Garuda selama empat bulan di Pusat Pendidikan Polisi Militer di Cimahi, yakni pasrah.

 

Pada malam terakhir pembajakan, yaitu Senin malam, Herman sempat berpesan kepada Hedhy. “Hed, nanti kalau kita kembali ke

Jakarta, kita pakai pakaian lengkap dengan topinya, ya.” Hedhy menjawab ajakan Herman tersebut dengan senyuman.Pada hematnya, Herman ternyata memperhatikan kebiasaan Hedhy yang selama ini kurang tertib dalam mengenakan pakaian seragam, yakni jarang mengenakan topi, sementara kancing atas bajunya sering dibiarkan terbuka. Ia tidak menyangka, Herman bakal pulang

ke Tanah Air dalam suatu upacara yang megah dan khidmat dengan pakaian seragamnya, tetapi penuh kesedihan.

 

Senin malam itu, setelah pembicaraan terakhir antara Jenderal Yoga dan pembajak, Herman dan Hedhy merasa tenang. Sejak hari

Sabtu, mereka tidak tidur sekejap pun. Herman duduk dengan santai, kakinya naik ke atas. Kini mereka berdua terlena dalam buaian

malam, sampai tiba-tiba Hedhy terbangun karena kejatuhan pecahan-pecahan

kaca, sementara angin mengembus dari samping menerpa wajahnya.

 

Dalam waktu yang bersamaan, Hedhy mendengar suara pletak-pletok, seperti bunyi letusan senapan dengan peredam suara.

Dengan latar belakang keluarga dan lingkungan pergaulan militer, Hedhy segera menyadari, tembak-menembak sedang terjadi.

Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk diam, tidak berani menoleh, agar tidak terkena peluru nyasar, atau memancing kecurigaan

pihak-pihak yang tengah terlibat dalam tembak-menembak. Hedhy

berlindung dalam kursinya.

 

Tetapi tidak demikian halnya dengan Herman Rante. Ketika ia mulai hendak

menggerakkan badannya, Hedhy berbisik, “Stay down, Stay down.”

Maksudnya, tetaplah duduk merunduk saja.

 

Tuhan memang menghendaki lain. Herman bergerak bangkit. Tidak ayal lagi sebutir

peluru menembus kepalanya. “Saya kena, Hed,” keluh Herman seraya menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sandaran kursi.

Kemudian Hedhy meraba kening Herman dan merasakan ada semacam benjolan kecil, serta lubang kecil menganga di bagian

belakang kiri bawah dekat telinga.

Hampir bersamaan dengan itu terdengar teriakan. “Di sini pasukan

Komando dari Indonesia. Kami menyelamatkan Saudara-saudara.”

 

Segera Hedhy disuruh menyalakan lampu. Karena tidak segera bisa menyalakan lampu, lantaran panik, Hedhy sempat ditodong oleh

salah seorang anggota pasukan Komando.

“Kok, malah saya yang ditodong,” katanya dalam hati yang kemudian diucapkannya kepada si penodong, “Saya kopilot, Pak,”

katanya seraya menunjukkan baju seragam pilot dengan wing dan tanda-tanda penerbangannya. Dengan cepat, kesalahpahaman di gulita malam itu teratasi.

 

Demikianlah, drama pembajakan berakhir. Peristiwa ini mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Duta besar-duta

besar Indonesia di luar negeri banyak mendapat ucapan selamat.

Korban yang jatuh pun tidak seperti yang semula diperkirakan, yakni 40 persen dari seluruh penumpang pesawat. Enam belas peti

mati yang sudah dipesan oleh sekretaris Suparno—Ny. Plengsri

Kiratipal—bersyukur tidak seluruhnya terpakai. Korban  tewas Kapten Pilot Herman Rante, anggota Kopassandha Letnan #AchmadKirang dan para pembajak.

 

Semua keberhasilan itu berkat kerja keras dan  cermat dalam suatu koordinasi  yang rapi dari #LaksamanaSudomo di Komando Krisis Jakarta, #JenderalYoga yang

dibantu oleh #HasnanHabib di Komando Krisis Don Muang, serta Jenderal #BennyMoerdani—si penentu keberhasilan yang memimpin penyerbuan 3 menit—bertindak luar biasa tanpa memejamkan mata sepicing pun, tanpa mandi dan ganti pakaian, serta tidak beranjak

meninggalkan tugas semenit pun. Juga dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam upaya pembebasan pesawat tersebut, lebih-lebih Pemerintah Thailand yang menunjang dengan segenap daya

dan kewenangannya.

 

Tidak kalah penting adalah pasukan Komando

itu sendiri, Tim Anti Teror  Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha), yang di lapangan dipimpin oleh Letnan Kolonel  #SintongPanjaitan. Keterampilan, kecepatan, dan ketepatan gerak mereka

mengukir sejarah Indonesia dengan tinta emas.  (bersambung)

 

 

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

#HermanRante

#HedhyJuwantoro

#SintongPanjaitan

#AchmadKirang

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda