Kamis, 19 Maret 2026

Mutiara Hikmah Puasa (13): KARENA HILAL SETITIK, RUSAK OPOR SEBELANGA: KAPAN MULAI PUASA & KAPAN BERLEBARAN?

 

Mutiara Hikmah Puasa (13)

KARENA HILAL SETITIK, RUSAK OPOR SEBELANGA: KAPAN MULAI PUASA & KAPAN BERLEBARAN?

 

“Karena hilal setitik, rusak opor sebelanga”, demikian bunyi salah satu joke “SMS dan BBM” yang beredar 15 tahun lalu, tepatnya Selasa pagi, 30 Agustus 2011, menanggapi hasil Sidang Isbat para ulama, ahli perbintangan dan pemerintah Senin petang sebelumnya, yang menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011.

Namun bagi keluarga adik saya, hal itu ternyata bukan hanya sekedar joke, tapi benar-benar terjadi. Sungguh ironis. Tatkala bangsa-bangsa lain sudah menjelajah ruang angkasa dan bisa mengikuti pergerakan bintang-bintang kecil di langit nun jauh di angkasa raya, yang berjarak ratusan tahun cahaya, kita masih ribut berdebat tentang pergerakan sebuah planet yang paling dekat dengan bumi, yaitu bulan.

Dan jika kemudian terjadi perbedaan, maka bukannya bagaimana berupaya keras mencari titik temu metoda ilmiah sesuai tradisi keilmuan yang dijunjung tinggi dalam Al-Qur’an, tapi menyerah dengan berlindung dalam sebuah eufemisme dengan menyatakan, perbedaan itu rahmat. Lah, kalau demikian apakah persamaan pendapat itu samadengan bala? Naudzubillah.

Hari-hari ini, 15 tahun berikutnya, media massa dan media sosial kembali diramaikan dengan pemberitaan kapan kita berlebaran. Jumat  20 Maret ataukah Sabtu 21 Maret 2026?

Tentang kapan mulai puasa Ramadan dan kapan berlebaran, saya sering menerima pertanyaan. Untuk itu dari masa ke masa jawaban saya selalu standar, yaitu tergantung dan berpedoman pada:

1.         Hadis Kanjeng Nabi Muhammad Saw. yang menyatakan, jika sesuatu diserahkan pada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (H.R. Muslim). Karena itu saya akan menunggu hasil pengamatan dari yang memang ahlinya, dalam hal ini ahli perbintangan.

2.         Hatta hampir setiap menjelang lebaran kita menyaksikan laporan serta diskusi beberapa stasiun televisi, yang menampilkan pendapat para ahli perbintangan dari Observatorium Bosscha, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), tentang kapan kita berlebaran.

 

Jika para ahli itu menyatakan pada malam hari itu nanti, bulan belum akan kelihatan meski diteropong dengan alat secanggih apapun, saya langsung menyatakan pada keluarga saya, insya Allah besok pagi saya masih akan puasa dan lebaran  pada hari lusanya. Namun untuk lebih afdolnya kita tunggu juga hasil Sidang Isbat petang nanti.

 

3.         Sabda Rasulullah yang dengan rendah hati mengakui: “Kita semua adalah umat yang buta huruf, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis serta tidak bisa berhitung. Sebulan itu ada sekian, sekian dan sekian”, seraya mengacungkan sepuluh jarinya, yang pada hitungan ketiga beliau mengurangi ibujarinya.

Kemudian beliau melanjutkan, “Dan sebulan itu ada sekian, sekian dan sekian”, kali ini genap tiga puluh hari (H.R. Muslim).

 

Dalam hadis yang lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda, “Apabila kamu melihat awal bulan Ramadan, maka berpuasalah. Apabila kamu melihat awal bulan Syawal, maka hendaklah kamu berbuka. Dan apabila kamu tertutup awan, maka hendaklah kamu berpuasa selama tigapuluh hari penuh”. Oleh para ahli fikih, ini dimaknai, jika kita ragu-ragu, maka genapkanlah puasa kita menjadi tigapuluh hari.

 

4.         Firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa ayat 59 yang menyatakan,“ …..ati’ullah wa’ati’urrasul wa ulil amri minkum….” Artinya taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasulullah dan ulil amri atau Pemerintah. Maka kita juga bisa mengikuti saja ketetapan Pemerintah, yang jika salah, maka merekalah yang akan menanggung dosa kita, dosa-dosa rakyat dan umat yang mengikutinya.

Demikianlah, tatkala Sidang Isbat di era Reformasi – bahkan sampai hari ini, Kamis 19 Maret 2026 -- yang sering bertele-tele memutuskan awal Ramadan dan Lebaran pada hari tertentu, banyak orang yang kecewa, meskipun banyak yang mengikutinya. Pasalnya banyak acara dan kegiatan yang sudah disusun mengikuti kalender lebaran Pemerintah dan gegap gempita pemberitaan media massa, yaitu sehari lebih dulu dibanding hasil Sidang Isbat.

Tentu saja yang paling terkena dampaknya adalah perusahaan-perusahaan katering dan keluarga-keluarga yang sudah terlanjur memasak dalam jumlah besar untuk acara-acara halal bihalal pada hari sesuai kalender libur resmi. Juga orang-orang yang sudah merencanakan bersilaturahim ke luar kota sehabis salat Ied.

Mengingat perbedaan ini sudah merebak semenjak lebih dari dua dasa warsa terakhir, anehnya penentuan tanggal-tanggal penting dalam kalender Islam (Hijriah) lainnya tidak pernah jadi masalah, seharusnyalah Pemerintah mengambil inisiatif mengantisipasi dengan menyelenggarakan seri lokakarya dan kajian mencari satu metode penentuan tanggal-tanggal sesuai kalender hijriah, khususnya penentuan 1 Syawal.

Hadirkan sejumlah pakar yang terkait termasuk pakar perbintangan, berkunjung ke observatorium pengamatan luar angkasa, sesudah itu silahkan para ulama berdiskusi mencari solusi dengan kepala dingin dan meninggalkan, jika ada, arogansi golongan.

Sangat disayangkan, yang kita saksikan di media massa khususnya televisi, dengan enaknya para pemimpin dan pengamat menyatakan, hargailah perbedaan, karena perbedaan adalah rahmat, atau ini kan hanya beda tafsir saja?

Sementara itu kita  menghadapi kasus adanya orang-orang yang mengharamkan orang lain yang masih berpuasa pada hari tatkala mereka sudah berlebaran.

Lah, kalau tentang menentukan 1 Syawal dan hadis tentang itu saja multi tafsir, bagaimana dengan tafsir atas sejumlah persoalan yang lain bahkan tentang ayat-ayat Qur’an dan sunah Rasul yang lain? Apa ini bukan jadi bahan tertawaan, untuk tidak menyatakan sangat disenangi oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan Islam? Bukankah perbedaan-perbedaan seperti itu bisa menjadi bibit bala?

Malu aku malu, pada semut merah…… kata sebuah nyanyian (lagu Kisah Kasih di Sekolah ciptaan Obbie Messakh yang dinyanyikan antara lain oleh Chrisye). Dan kepada Anda, saudara saudaraku, baik yang berlebaran hari tertentu maupun keesokan harinya, perkenankan saya menyampaikan: “Sukses menjalani Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Ramadan, selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin, termasuk jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini.”

(Diolah kembali dari tulisan di  buku #BWiwoho, #MutiaraHikmahPuasa, #PanjiMasyarakat, 2023).

#PenentuanSatuSyawal

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda