Jumat, 21 Juli 2017

KIDUNG SUNAN KALIJAGA, MEDITATIF - KONTEMPLATIF




Banyak cara dan ukuran untuk menilai peradaban sesuatu bangsa, antara lain dengan melihat perkembangan kebudayaannya seperti kesenian, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, sastra dan organisasi kenegaraannya. Dari semua itu yang paling mudah adalah dengan melihat masakannya, pakaian adat, sastra dan musik termasuk alat musiknya.

Seni musik gamelan Jawa beserta alunan irama yang dimainkannya, khususnya irama tembang-tembang macapat, harus diakui memiliki keunggulan yang tinggi dalam hal sastra, seni musik dan teknologi pembuatan peralatan gamelannya pada masa dahulu kala.

Di Inggris, menurut laporan media massa terkemuka BBC 15 Januari 2015 (http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/01/150119_trensosial_gamelan_penjara), gamelan telah dipakai untuk membantu rehabilitasi mental ribuan nara pidana. Mereka mendapatkan bantuan 'terapi' dengan belajar dan bermain gamelan bersama melalui satu yayasan yang berkeliling di puluhan penjara dalam 10 tahun ini.
Direktur eksekutif Yayasan Good Vibrations yang didirikan tahun 2003, Katherine Haigh, mengatakan dari sekitar 4050 peserta - sebagian besar adalah narapidana- 75% di antaranya menyebutkan bahwa belajar gamelan membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Di Inggris banyak tumbuh kelompok-kelompok gamelan yang dimotori oleh Catherine Eastburn, yang sudah  mahir bermain antara lain kelompok  The Southbank Gamelan Players dan Gamelan Naga Mas.
Pakar gamelan dari Inggris lain yaitu Dr.Helen Loth dalam Seminar “Therapeutic Uses Of Gamelan” yang diselenggarakan Universitas Pelita Harapan  10 September 2016 (http://musicalprom.com/2016/09/19/musik-terapi-menggunakan-gamelan-hasil-penelitian-dari-inggris/ ), memaparkan hasil penelitian di Inggris mengenai penggunaan musik termasuk gamelan sebagai sarana terapi bagi kesehatan mental. Ketua dari Program Magister Bidang Terapi Musik Universitas Anglia Ruskin, Cambridge, Inggris ini melakukan penelitian doktoralnya dengan judul “ An Investigation Into the Relevance of Gamelan Music to the Practise of Music Therapy.”

Berdasarkan hasil wawancaranya dengan berbagai pihak yang berkecimpung dalam dunia gamelan di Inggris, ternyata gamelan telah digunakan di banyak tempat dan kesempatan seperti pendidikan, orkestra dan bahkan rumah sakit. Bermain gamelan, katanya, memberikan banyak manfaat seperti pengembangan kemampuan belajar, kesejahteraan hidup, kemampuan sosial, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama dan kesadaran sensoris.

Bagaimana halnya dengan di Indonesia? Kecuali di Bali, hampir semua seni tradisonal Nusantara makin meredup keberadaannya. Bukan hanya seni gamelan Jawa dan seni tembang macapat, tapi juga seni musik suku-suku bangsa kita yang lain, hanya merupakan kelompok-kelompok kecil yang jarang, dan pada umumnya sekedar tampil melengkapi upacara-upacara adat pernikahan pada keluarga-keluarga menengah atas.

Gamelan Jawa yang kita kenal sekarang, memilik sejarah panjang yang memperoleh penyempurnaan dan kelengkapan dari para ulama penyebar agama Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga abad ke 15 – 16, terutama dari Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria. Lebih khas lagi adalah tembang-tembang macapat, yang memang diciptakan Wali Sanga sebagai media untuk berdakwah. Irama tembang-tembang macapat, dipakai untuk mengiringi sastra tutur yang berisi materi-materi dakwah agama Islam khususnya tasawuf, yang pada masa Kesultanan Demak disebut Sastra Suluk. Suluk berarti jalan menuju Tuhan, kemudian juga dipakai untuk pengantar sesuatu babak dalam seni pewayangan.

Dengan suluk tembang-tembang macapat tersebut, agama Islam yang semula diacuhkan masyarakat Jawa, akhirnya diterima dan kemudian berkembang pesat menjadi umat Islam terbesar di dunia sekarang ini. Padahal menurut temuan arkeologi, Islam sudah masuk ke Jawa pada awal abad ke 11, bahkan sejumlah ahli sejarah kini sedang meneliti berbagai data yang mengindikasikan Islam sudah masuk ke Jawa sejak periode awal Islam, yakni abad ke 7 Masehi. Jika kita berpatokan pada temuan arkeologi yaitu inskripsi kuno pada makam Fatimah binti Maimun (1082 M) yang berada di desa Leran, Kecamatan  Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, maka Islam sudah masuk ke Jawa padaabad 11, namun seperti tertahan dan tidak berkembang sampai periode Wali Sanga.

Kidung Kawedar atau Kidung Sariro Ayu atau Kidung Rumekso ing Wengi, selanjutnya penulis sebut Kidung Kawedar, adalah sebuah suluk yang memperkenalkan tentang agama Islam pada masyarakat Jawa abad ke 15 – 16. Masyarakat Jawa penggemar seni gamelan sekarang ini, baik yang Islam maupun bukan, pada umumnya mengenal Suluk Kidung Kawedar  terutama bait pertama sampai ketiga. Sedangkan bagi penghayat kebatinan dan Kejawen, bait ke 17 dan 18 lebih disenangi. Suluk ini jika dikidungkan dengan irama Dandhangula yang diiringi lantunan lembut gamelan, sungguh akan membangun suasana meditatif-kontemplatif yang luar biasa.

Bagi masyarakat umum, meskipun orang Jawa, makna syair-syair Kidung Kawedar sudah mulai sulit dipahami karena disajikan dalam bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Madya). Sedangkan yang berlaku di masyarakat Jawa sekarang adalah bahasa Jawa Baru, yang sudah gado-gado, campur dengan berbagai bahasa daerah dan asing lainnya. Demi memahami Kidung Kawedar, melalui buku ini penulis mempersembahkan terjemahan sekaligus berikut tafsirnya. Sebelum dihimpun menjadi sebuah buku, tulisan-tulisan tersebut telah dimuat di dalam blog/website b.wiwoho.blogspot.com dan islamjawa.wordpress.com serta facebook Bambang Wiwoho, facebook Tasawuf Djawa Full dan grup Tasawuf Djawa.

Tafsir ini diilhami oleh pengalaman penulis sebagai pengurus harian dalam Festival Istiqlal I (tahun 1991) dan Festival Istiqlal II, yaitu festival seni budaya yang bernafaskan Islam, serta nasihat dan dorongan kuat dari ulama sepuh Prof.K.H.Ali Yafie. Untuk itu penulis menyampaikan rasa takzim dan terima kasih nan tak terhingga. Ungkapan terima kasih juga wajib disampaikan kepada tiga sahabat yang telah berkenan memberikan ulasan dan kata pengantar. Pertama kepada putera beliau Helmy A.Yafie (Sekretaris Jenderal Darud Dakwah wal Irsyad), yang bukan orang Jawa tapi telah memberikan ulasan Kidung Kawedar secara mendalam. Kedua, sahabat Gus Anis Sholeh Ba’asyin (pimpinan Suluk Maleman/Orkes Sampak Gusuran dan Rumah Adab Indonesia di Pati) yang sejumlah sahabat sering memanggilnya Habib Anis. Ketiga, sahabat penulis selama lebih 40 tahun, wartawan senior yang memiliki banyak hobi dan pernah menduduki berbagai jabatan penting yaitu mas Parni Hadi. 

Ungkapan terima kasih selanjutnya kami sampaikan kepada mas Rachmat Riyadi dan mas Faried Wijdan serta sahabat-sahabat dari penerbit Pustaka IIMAN. Juga terima kasih untuk mas Luluk dan mbak Lies Sumiarso pimpinan Rumah Puspo Budoyo/Nusantara Institute serta mas Djoko Muljono, yang secara bersama-sama telah bertekad menggelorakan kembali seni macapat Nusantara, dengan mendayagunakan segenap potensi jejaring seni budaya Nusantara.

Semoga dengan hikmah Kidung Kawedar ini, beserta ridha, rahmat dan berkah-Nya, kita bisa terus tumbuh dan berkembang menjadi bangsa dan umat Islam yang sejahtera, tinggi serta mulia peradabannya. Aamiin.

(Pengantar penulis untuk buku: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar)






0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda