Kamis, 28 Desember 2017

Menyoal Program Dana Desa

 http://watyutink.com/fokus/menyoal-program-dana-desa

Mari Kita Jaga Dana Desa, Dana Saya-Dana Kita Semua (Bagian 1)

Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita.

28 Dec 16:00:00
Kekuatiran Menteri Keuangan Sri Mulyani dana desa gagal menurunkan angka kemiskinan dibanding laju kenaikan angka kemiskinan, sangat beralasan dan memang sudah terbukti, karena di samping setting sosial pedesaan yang butuh pendekatan berbeda, juga lantaran pemahaman akan makna geo-ekonomi, geo-politik dan geo-strategis secara nasional sangat lemah. Jadi bukan sekedar menabur uang ke pedesaan dan membangun infrastuktur khususnya jalan, sebab apalah artinya jalan apabila ekonomi rakyat tidak tumbuh.
Kita sering bicara tentang Perang Asimetris atau Perang Semesta Global yang tengah berlangsung dan menyerbu Negara-Negara Bangsa, namun hanya sebatas retorika, dan masih saja tidak peduli dengan perang moderen terdahsyat tersebut, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh dan meriam, melainkan perang dalam segala bentuk, khususnya perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia, termasuk penduduk di pedesaan Indonesia.
Demi memenangkan peperangan itu, kekuatan kapitalis barat dan utara yang menguasai modal dan teknologi, terus berusaha menggelorakan pesona gaya hidup beserta produk-produk konsumtifnya, dengan akibat kerusakan tata nilai budi luhur dan  keagamaan, juga terkurasnya sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup. Masyarakat luas hanya dijadikan pasar dengan individu-individunya yang konsumtif, pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Boros serta mementingkan diri sendiri, sehingga menjadikan individu-individu yang hidup secara defisit seperti halnya negeri kita yang senantiasa defisit dalam neraca pembiayaan dan perdagangan luar negeri.
Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong dan bahan pokok, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin.
Sesungguhnya gagasan mengalirkan uang ke pedesaan dengan program dana desa itu sangat mulia dan akan tepat dan berdayaguna apabila dilakukan dalam setting sosial pedesaan yang berada dalam suatu strategi besar nasional yang dilandasi pada tiga kekuatan peta bumi yakni geo-ekonomi, geo-politik dan geo-strategis yang baik.
Sebagai contoh di bidang energi, Guru Besar ITB Prof.Dr.Teuku Abdullah Sanny dalam tulisannya di Republika 14 Oktober 2014, sudah mengusulkan 7 (tujuh) langkah strategi kebijakan yang berbasis tiga potensi peta bumi tersebut, antara lain Pemerintah harus dapat segera membuat rencana strategis energi berbasis nonmigas serta mengubah kebijakan yang bersifat sentralistik ke pola regional sesuai karakteristik alam masing-masing.
Strategi kebijakan seperti itu akan meningkatkan daya guna tepat dan mendekatkan serta melibatkan peran serta masyarakat di berbagai daerah dalam memenuhi kebutuhan energi bagi dirinya sendiri. Kita harus bisa mendayagunakan secara optimal apa-apa yang kita miliki, termasuk mengolah potensi alam seperti sampah, air, matahari dan angin menjadi sumber energi sebagaimana dikemukakan oleh Prof.Dr. Teuku Abdullah Sanny tadi. Dalam hal pemanfaatan sampah saja, penalar telah mempraktekkan dengan mengolahnya menjadi pupuk dan briket untuk bahan bakar. Di beberapa negara Eropa, sampah makanan dan dapur dikumpulkan tersendiri untuk diolah menjadi sumber energi. (pso)

Mari Kita Jaga Dana Desa, Dana Saya-Dana Kita Semua (Bagian 2)

Bisakah kita membangun etos "setiap jengkal tanah setiap saat menghasilkan"?

28 Dec 16:00:00
Di bidang pertanian, kita adalah negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, dengan air laut dan matahari tropis nan melimpah-ruah, tiga syarat utama pembuatan industri garam. Ironisnya kita justru mengimpor garam dari negara-negara sub tropis yang tiga persyaratan utamanya justru jauh di bawah kita. Siapa yang diuntungkan? Sudah pasti bukan rakyat tapi pedagang dan importir garam, yang jaringan mata rantainya selalu menyalahkan musim hujan yang tidak mendukung industri garam. Padahal di kampung petani garam di Sedayu, Jawa Timur, sejumlah penduduk sudah berhasil dengan sukses mengembangkan rumah piramid garam yang memungkinkan memproduksi garam sepanjang tahun tanpa terpengaruh musim hujan.
Dalam budaya ekonomi, kita harus bisa mengobarkan perang terhadap sikap hidup yang konsumtif dan boros, dengan membudayakan sikap hidup hemat, sederhana dan menabung. Kita harus menggalang etos dan budaya industri secara hakikat dalam makna yang luas yakni pola pikir, sikap hidup dan perilaku untuk mendayagunakan sumber daya alam, ketrampilan, peralatan dan ketekunan kerja dalam suatu mata rantai produksi yang luas, berkesinambungan serta mengutamakan nilai tambah, dan bukan dalam arti sempit sebagaimana kita kenal selama ini, yang dibatasi hanya semata-mata sebagai suatu proses pabrikasi.
Dalam memaknai geo-ekonomi di zamrud khatulistiwa yang secara potensial subur makmur ini misalkan, bagaimana kita ditantang untuk membangun etos “setiap jengkal tanah, setiap saat menghasilkan”. Sebagai contoh, Gerakan OVOP (One Village One Product) yang selama ini sudah digulirkan oleh Prof.Dr.Gunawan Sumodiningrat dan Universitas Gajah Mada, sungguh tepat dan bisa menjadi contoh model pembangunan yang mengabdi pada rakyat dan komunitas, yang produktif berkesinambungan, mendayagunakan keunggulan lokal, melestarikan eko sistem dan melakukan konservasi.
Etos dan budaya industri serta semangat OVOP itu harus dikembangkan dalam sistem kebersamaan dan kekeluargaan yang kita kenal sebagai gotongroyong,  sehingga mampu menggetarkan setiap pori-pori kehidupan anak bangsa. Gerakan OVOP dengan sentuhan akhir kepariwisataan, sekaligus juga akan dapat menarik banyak wisatawan dan menjadi gerakan dari desa membangun Indonesia. Yogya dan sekitarnya misalkan, memiliki banyak produk dan keunggulan lokal yang bisa menjadi unggulan serta percontohan Gerakan OVOP, antara lain salak pondoh, geplak, tiwul, kerajinan kulit, keramik dan aneka seni Jawa. Demikian pula potensi di berbagai wilayah di Indonesia.
Budaya industri dalam arti luas yang menjiwai Gerakan OVOP, mendorong masyarakat di tingkat bawah untuk hidup produktif dengan mendayagunakan segenap potensi yang dimiliki secara berkesinambungan. Budaya ekonomi dan industri dalam kerangka strategi besar nasional yang bertumpu pada keunggulan tiga potensi utama peta bumi Indonesia, harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari program dana desa. Jika tidak, maka jangan berharap kemiskinan di pedesaan akan berkurang, bahkan terus bertambah bersama meningkatnya para aparat desa yang terlilit kasus penyalahgunaan dana desa.
Kita semua harus ikut menjaga Dana Desa, yang antara lain bersumber dari Pajak Penjualan yang dipungut 10 persen, misalkan dari gula, kopi, air mineral yang kita minum sebagai wedang kopi, serta  listrik atau gas yang memanaskan airnya. Jadi ratusan triliuun rupiah Dana Desa yang ditaburkan ke pedesaan itu, bukan hanya dananya Menteri Keuangan, melainkan dana dari saya, dari anda dan kita semua. (pso)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda