Mutiara Hikmah Puasa (13)
KARENA HILAL SETITIK,
RUSAK OPOR SEBELANGA: KAPAN MULAI PUASA & KAPAN BERLEBARAN?
“Karena hilal setitik,
rusak opor sebelanga”, demikian bunyi salah satu joke “SMS dan BBM” yang
beredar 15 tahun lalu, tepatnya Selasa pagi, 30 Agustus 2011, menanggapi hasil
Sidang Isbat para ulama, ahli perbintangan dan pemerintah Senin petang
sebelumnya, yang menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H jatuh pada
hari Rabu 31 Agustus 2011.
Namun bagi keluarga adik
saya, hal itu ternyata bukan hanya sekedar joke, tapi benar-benar terjadi.
Sungguh ironis. Tatkala bangsa-bangsa lain sudah menjelajah ruang angkasa dan
bisa mengikuti pergerakan bintang-bintang kecil di langit nun jauh di angkasa
raya, yang berjarak ratusan tahun cahaya, kita masih ribut berdebat tentang
pergerakan sebuah planet yang paling dekat dengan bumi, yaitu bulan.
Dan jika kemudian terjadi
perbedaan, maka bukannya bagaimana berupaya keras mencari titik temu metoda
ilmiah sesuai tradisi keilmuan yang dijunjung tinggi dalam Al-Qur’an, tapi
menyerah dengan berlindung dalam sebuah eufemisme dengan menyatakan, perbedaan
itu rahmat. Lah, kalau demikian apakah persamaan pendapat itu samadengan bala?
Naudzubillah.
Hari-hari ini, 15 tahun
berikutnya, media massa dan media sosial kembali diramaikan dengan pemberitaan
kapan kita berlebaran. Jumat 20 Maret
ataukah Sabtu 21 Maret 2026?
Tentang kapan mulai puasa
Ramadan dan kapan berlebaran, saya sering menerima pertanyaan. Untuk itu dari
masa ke masa jawaban saya selalu standar, yaitu tergantung dan berpedoman pada:
1.
Hadis
Kanjeng Nabi Muhammad Saw. yang menyatakan, jika sesuatu diserahkan pada bukan
ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (H.R. Muslim). Karena itu saya akan
menunggu hasil pengamatan dari yang memang ahlinya, dalam hal ini ahli
perbintangan.
2.
Hatta hampir
setiap menjelang lebaran kita menyaksikan laporan serta diskusi beberapa
stasiun televisi, yang menampilkan pendapat para ahli perbintangan dari
Observatorium Bosscha, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika serta Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), tentang kapan kita berlebaran.
Jika para ahli itu menyatakan pada malam hari itu nanti, bulan
belum akan kelihatan meski diteropong dengan alat secanggih apapun, saya
langsung menyatakan pada keluarga saya, insya Allah besok pagi saya masih akan
puasa dan lebaran pada hari lusanya.
Namun untuk lebih afdolnya kita tunggu juga hasil Sidang Isbat petang nanti.
3.
Sabda
Rasulullah yang dengan rendah hati mengakui: “Kita semua adalah umat yang buta
huruf, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis serta tidak bisa berhitung.
Sebulan itu ada sekian, sekian dan sekian”, seraya mengacungkan sepuluh
jarinya, yang pada hitungan ketiga beliau mengurangi ibujarinya.
Kemudian beliau melanjutkan, “Dan sebulan itu ada sekian,
sekian dan sekian”, kali ini genap tiga puluh hari (H.R. Muslim).
Dalam hadis yang lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim,
beliau bersabda, “Apabila kamu melihat awal bulan Ramadan, maka berpuasalah.
Apabila kamu melihat awal bulan Syawal, maka hendaklah kamu berbuka. Dan
apabila kamu tertutup awan, maka hendaklah kamu berpuasa selama tigapuluh hari
penuh”. Oleh para ahli fikih, ini dimaknai, jika kita ragu-ragu, maka
genapkanlah puasa kita menjadi tigapuluh hari.
4.
Firman
Allah Swt. dalam surat An-Nisa ayat 59 yang menyatakan,“ …..ati’ullah
wa’ati’urrasul wa ulil amri minkum….” Artinya taatlah kepada Allah dan taatlah
kepada Rasulullah dan ulil amri atau Pemerintah. Maka kita juga bisa mengikuti
saja ketetapan Pemerintah, yang jika salah, maka merekalah yang akan menanggung
dosa kita, dosa-dosa rakyat dan umat yang mengikutinya.
Demikianlah, tatkala
Sidang Isbat di era Reformasi – bahkan sampai hari ini, Kamis 19 Maret 2026 -- yang
sering bertele-tele memutuskan awal Ramadan dan Lebaran pada hari tertentu,
banyak orang yang kecewa, meskipun banyak yang mengikutinya. Pasalnya banyak
acara dan kegiatan yang sudah disusun mengikuti kalender lebaran Pemerintah dan
gegap gempita pemberitaan media massa, yaitu sehari lebih dulu dibanding hasil
Sidang Isbat.
Tentu saja yang paling
terkena dampaknya adalah perusahaan-perusahaan katering dan keluarga-keluarga
yang sudah terlanjur memasak dalam jumlah besar untuk acara-acara halal bihalal
pada hari sesuai kalender libur resmi. Juga orang-orang yang sudah merencanakan
bersilaturahim ke luar kota sehabis salat Ied.
Mengingat perbedaan ini
sudah merebak semenjak lebih dari dua dasa warsa terakhir, anehnya penentuan
tanggal-tanggal penting dalam kalender Islam (Hijriah) lainnya tidak pernah
jadi masalah, seharusnyalah Pemerintah mengambil inisiatif mengantisipasi
dengan menyelenggarakan seri lokakarya dan kajian mencari satu metode penentuan
tanggal-tanggal sesuai kalender hijriah, khususnya penentuan 1 Syawal.
Hadirkan sejumlah pakar
yang terkait termasuk pakar perbintangan, berkunjung ke observatorium
pengamatan luar angkasa, sesudah itu silahkan para ulama berdiskusi mencari
solusi dengan kepala dingin dan meninggalkan, jika ada, arogansi golongan.
Sangat disayangkan, yang
kita saksikan di media massa khususnya televisi, dengan enaknya para pemimpin
dan pengamat menyatakan, hargailah perbedaan, karena perbedaan adalah rahmat,
atau ini kan hanya beda tafsir saja?
Sementara itu kita menghadapi kasus adanya orang-orang yang
mengharamkan orang lain yang masih berpuasa pada hari tatkala mereka sudah
berlebaran.
Lah, kalau tentang
menentukan 1 Syawal dan hadis tentang itu saja multi tafsir, bagaimana dengan
tafsir atas sejumlah persoalan yang lain bahkan tentang ayat-ayat Qur’an dan
sunah Rasul yang lain? Apa ini bukan jadi bahan tertawaan, untuk tidak
menyatakan sangat disenangi oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan Islam?
Bukankah perbedaan-perbedaan seperti itu bisa menjadi bibit bala?
Malu aku malu, pada semut
merah…… kata sebuah nyanyian (lagu Kisah Kasih di Sekolah ciptaan Obbie Messakh
yang dinyanyikan antara lain oleh Chrisye). Dan kepada Anda, saudara saudaraku,
baik yang berlebaran hari tertentu maupun keesokan harinya, perkenankan saya
menyampaikan: “Sukses menjalani Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat)
Ramadan, selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin, termasuk jika
ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini.”
(Diolah kembali dari
tulisan di buku #BWiwoho, #MutiaraHikmahPuasa,
#PanjiMasyarakat, 2023).
#PenentuanSatuSyawal