Senin, 30 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (4) KOPASSANDHA TUMPAS PEMBAJAKAN HANYA 3 MENIT.

 


Versi Pendek

Senin malam 30 Maret 1981, setelah pembicaraan terakhir antara #JenderalYoga dan pembajak, #HermanRante dan #HedhyJuwantoro merasa tenang. Sejak hari Sabtu, mereka tidak tidur sekejap pun. Herman duduk dengan santai, kakinya naik ke atas. Kini mereka berdua terlena dalam buaian

malam, sampai tiba-tiba Hedhy terbangun karena kejatuhan pecahan-pecahan kaca, sementara angin mengembus dari samping menerpa wajahnya.

 

Dalam waktu yang bersamaan, Hedhy mendengar suara pletak-pletok, seperti bunyi letusan senapan dengan peredam suara.

 

Dengan latar belakang keluarga militer, Hedhy segera menyadari, tembak-menembak sedang terjadi.

Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk diam, tidak berani menoleh, agar tidak terkena peluru nyasar, atau memancing kecurigaan pihak-pihak yang tengah terlibat dalam tembak-menembak. Hedhy

berlindung dalam kursinya.

 

Tetapi tidak demikian halnya dengan Herman Rante. Ketika ia mulai hendak menggerakkan badannya, Hedhy berbisik, “Stay down, Stay down.”

Maksudnya, tetaplah duduk merunduk saja.

 

Tuhan memang menghendaki lain. Herman bergerak bangkit. Tidak ayal lagi sebutir peluru menembus kepalanya. “Saya kena, Hed,” keluh Herman seraya menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sandaran kursi.

Kemudian Hedhy meraba kening Herman dan merasakan ada benjolan kecil, serta lubang kecil menganga di bagian belakang kiri bawah dekat telinga.

 

Hampir bersamaan terdengar teriakan. “Di sini pasukan Komando dari Indonesia. Kami menyelamatkan saudara-saudara.”.

 

Demikianlah, drama pembajakan berakhir. Peristiwa ini mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.

Korban yang jatuh pun tidak seperti yang diperkirakan, yakni 40 persen dari seluruh penumpang. Enam belas peti mati yang sudah dipesan

bersyukur tidak seluruhnya terpakai. Korban  tewas Kapten Pilot Herman Rante, anggota Kopassandha Letnan #AchmadKirang dan para pembajak.

 

Semua keberhasilan itu berkat kerja keras dalam suatu koordinasi  yang rapi dari #LaksamanaSudomo di Komando Krisis Jakarta, #YogaSugomo yang dibantu #HasnanHabib di Komando Krisis Don Muang, serta Jenderal #BennyMoerdani—si penentu keberhasilan yang memimpin penyerbuan 3 menit.

 

Tak kalah penting adalah Tim Anti Teror  Kopassandha yang dipimpin  Letkol  #SintongPanjaitan.

(Selengkapnya di facebook #BambangWiwoho).

 

#OperasiWoyla #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

 

 

 

 

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (4) KOPASSANDHA TUMPAS PEMBAJAKAN HANYA 3 MENIT.

 






31 Maret 1981, Selasa 02.20

 

Sementara Hedhy tidak memiliki firasat dan perasaan apa-apa, baik sebelum maupun selama pembajakan berlangsung, tidak

demikian halnya dengan Herman Rante. Herman seolah-olah sudah merasa masa itu adalah hari-hari terakhirnya. Ia tampak sangat

murung, dan kepada Hedhy banyak bercerita mengenai keluarganya; mengenai kerinduannya; mengenai istrinya, Satina Rante; mengenai ketiga anaknya, Angki, Faldi, dan Noya.

 

Di kemudian hari, Satina Rante menceritakan kepada penulis, beberapa hari sebelum pembajakan, Herman mengajaknya membeli durian ke Pancoran. Tatkala mobil yang dikendarainya berdua keluar dari Kompleks Perumahan Garuda di daerah Kalibata, menyusuri Jalan Raya Pasar Minggu dan melewati samping Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Herman menunjuk ke arah TMP seraya berkata, “Mah, lihat nanti papa dimakamkan di sana, dan ribuan orang mengantarkan,” yang kemudian dia balas, “Memangnya papa siapa?”

 

Satina juga teringat kisah saudaranya yang bertamu dan menginap di rumahnya Jumat malam Sabtu tanggal 28 Maret 1981. Malam itu Satina tidur cepat karena kelalahan seharian antar jemput anak-anak ke sekolah dan beberapa urusan lain, sementara menurut saudaranya, sampai lewat tengah malam Herman masih duduk termenung sendirian di keremangan ruang keluarga. Rupanya Herman sudah memperoleh firasat.

 

Semula Hedhy Juwantoro pun terpengaruh dengan suasana tegang pembajakan. Juga

terbayang isteri yang sudah dinikahinya setahun lalu, baru beberapa hari berselang dinyatakan dokter positif hamil. Namun, ia segera teringat kiat menghadapi stres yang diperolehnya tatkala mengikuti pendidikan semi militer untuk para calon pilot Garuda selama empat bulan di Pusat Pendidikan Polisi Militer di Cimahi, yakni pasrah.

 

Pada malam terakhir pembajakan, yaitu Senin malam, Herman sempat berpesan kepada Hedhy. “Hed, nanti kalau kita kembali ke

Jakarta, kita pakai pakaian lengkap dengan topinya, ya.” Hedhy menjawab ajakan Herman tersebut dengan senyuman.Pada hematnya, Herman ternyata memperhatikan kebiasaan Hedhy yang selama ini kurang tertib dalam mengenakan pakaian seragam, yakni jarang mengenakan topi, sementara kancing atas bajunya sering dibiarkan terbuka. Ia tidak menyangka, Herman bakal pulang

ke Tanah Air dalam suatu upacara yang megah dan khidmat dengan pakaian seragamnya, tetapi penuh kesedihan.

 

Senin malam itu, setelah pembicaraan terakhir antara Jenderal Yoga dan pembajak, Herman dan Hedhy merasa tenang. Sejak hari

Sabtu, mereka tidak tidur sekejap pun. Herman duduk dengan santai, kakinya naik ke atas. Kini mereka berdua terlena dalam buaian

malam, sampai tiba-tiba Hedhy terbangun karena kejatuhan pecahan-pecahan

kaca, sementara angin mengembus dari samping menerpa wajahnya.

 

Dalam waktu yang bersamaan, Hedhy mendengar suara pletak-pletok, seperti bunyi letusan senapan dengan peredam suara.

Dengan latar belakang keluarga dan lingkungan pergaulan militer, Hedhy segera menyadari, tembak-menembak sedang terjadi.

Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk diam, tidak berani menoleh, agar tidak terkena peluru nyasar, atau memancing kecurigaan

pihak-pihak yang tengah terlibat dalam tembak-menembak. Hedhy

berlindung dalam kursinya.

 

Tetapi tidak demikian halnya dengan Herman Rante. Ketika ia mulai hendak

menggerakkan badannya, Hedhy berbisik, “Stay down, Stay down.”

Maksudnya, tetaplah duduk merunduk saja.

 

Tuhan memang menghendaki lain. Herman bergerak bangkit. Tidak ayal lagi sebutir

peluru menembus kepalanya. “Saya kena, Hed,” keluh Herman seraya menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sandaran kursi.

Kemudian Hedhy meraba kening Herman dan merasakan ada semacam benjolan kecil, serta lubang kecil menganga di bagian

belakang kiri bawah dekat telinga.

Hampir bersamaan dengan itu terdengar teriakan. “Di sini pasukan

Komando dari Indonesia. Kami menyelamatkan Saudara-saudara.”

 

Segera Hedhy disuruh menyalakan lampu. Karena tidak segera bisa menyalakan lampu, lantaran panik, Hedhy sempat ditodong oleh

salah seorang anggota pasukan Komando.

“Kok, malah saya yang ditodong,” katanya dalam hati yang kemudian diucapkannya kepada si penodong, “Saya kopilot, Pak,”

katanya seraya menunjukkan baju seragam pilot dengan wing dan tanda-tanda penerbangannya. Dengan cepat, kesalahpahaman di gulita malam itu teratasi.

 

Demikianlah, drama pembajakan berakhir. Peristiwa ini mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Duta besar-duta

besar Indonesia di luar negeri banyak mendapat ucapan selamat.

Korban yang jatuh pun tidak seperti yang semula diperkirakan, yakni 40 persen dari seluruh penumpang pesawat. Enam belas peti

mati yang sudah dipesan oleh sekretaris Suparno—Ny. Plengsri

Kiratipal—bersyukur tidak seluruhnya terpakai. Korban  tewas Kapten Pilot Herman Rante, anggota Kopassandha Letnan #AchmadKirang dan para pembajak.

 

Semua keberhasilan itu berkat kerja keras dan  cermat dalam suatu koordinasi  yang rapi dari #LaksamanaSudomo di Komando Krisis Jakarta, #JenderalYoga yang

dibantu oleh #HasnanHabib di Komando Krisis Don Muang, serta Jenderal #BennyMoerdani—si penentu keberhasilan yang memimpin penyerbuan 3 menit—bertindak luar biasa tanpa memejamkan mata sepicing pun, tanpa mandi dan ganti pakaian, serta tidak beranjak

meninggalkan tugas semenit pun. Juga dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam upaya pembebasan pesawat tersebut, lebih-lebih Pemerintah Thailand yang menunjang dengan segenap daya

dan kewenangannya.

 

Tidak kalah penting adalah pasukan Komando

itu sendiri, Tim Anti Teror  Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha), yang di lapangan dipimpin oleh Letnan Kolonel  #SintongPanjaitan. Keterampilan, kecepatan, dan ketepatan gerak mereka

mengukir sejarah Indonesia dengan tinta emas.  (bersambung)

 

 

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

#HermanRante

#HedhyJuwantoro

#SintongPanjaitan

#AchmadKirang

Minggu, 29 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (3): DUA SANDERA ASING KABUR & SATU DITEMBAK

 

(Versi panjang).

Pada hari pertama pembajakan, #HermanRante dan #HedhyJuwantoro merasa amat tegang. Mereka baru bisa agak tenang dan pasrah setelah ada kontak pembicaraan dengan Jenderal #YogaSugomo. Selesai kontak pertama dengan #JenderalYoga, mereka ganti merasa capai.

Ketegangan kembali melanda awak pesawat, juga para sandera – menjelang Minggu sore, tatkala satu per satu para sandera jatuh lemas karena udara di dalam pesawat panas dan pengap. Dalam suasana yang seperti itu, sewaktu melihat para pembajak berpelukan satu sama lain, mereka menduga pembajak telah bertekad untuk mati bersama dengan meledakkan pesawat.

Hedhy teringat, jika sedang tegang, Herman sebentar-sebentar mengusap dahi, sedangkan dia sendiri sebentar-sebentar mengecek frekuensi radio dan melihat peta rute penerbangan. Padahal, pesawat tetap nongkrong di landasan.

Suatu kali dalam suasana tegang, Hedhy bergerak ingin mengambil rokok yang berada di dalam tas di sebelah kanannya. Tahu-tahu pistol Mahrizal sudah menempel di kepala.

“Saya mau merokok. Boleh enggak?” tanya Hedhy.

“Rokoknya apa?” balas Mahrizal.

“Jisamsu.”

“Okey”

Selama drama pembajakan, sesungguhnya berulang kali Hedhy memperoleh kesempatan emas untuk melarikan diri, di samping beberapa kesempatan kecil lainnya. Namun, entah mengapa, ia tidak tega meninggalkan tanggung jawabnya sebagai kopilot begitu saja. Bukan sok pahlawan. Ia telah berangkat bersama-sama. Rasanya ingin juga pulang bersama-sama.

Kesempatan emas pertama sudah diperoleh di Penang sewaktu pesawat mengisi bahan bakar. Pada saat itu, Hedhy disuruh turun dari sebelah kiri pesawat untuk mengawasi pengisian bahan bakar. Mahrizal memang mengawasi dari atas dengan menggenggam pistol. Namun, Hedhy tidak hanya di sebelah kiri pesawat. Hedhy telah bergerak bebas ke sayap kanan. Di sinilah peluang pertama muncul.

Kesempatan berikutnya tiba tatkala Hedhy disuruh menutup pintu darurat yang dibuka Robert Wainwright untuk melarikan diri. Hedhy sempat keluar dari pesawat melalui pintu tersebut.

Peluang emas berikutnya, atau kalau ada istilah lain, bahkan lebih dari emas, berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, dari sekitar pukul 17.00 sampai dengan sekitar pukul 20.00 hari Minggu. Waktu itu Hedhy sedang bertugas mengawasi pengisian bahan bakar. Ia jongkok di depan pintu darurat di kanan depan,sementara Abu Sofyan mengawasi di belakangnya. Pada saat itulah sandera Carl S. Schneider yang duduk di barisan kiri depan di kursi paling kanan bergerak untuk memanfaatkan giliran menghirup udara segar. Namun, secara mendadak ia lari menyerobot ke pintu darurat yang dibuka Hedhy, mendorong Abu Sofyan sehingga bibir Abu terluka. Serta-merta, Abu Sofyan bereaksi menarik picu pistolnya dua kali, menembak Schneider. Peluru berdesing di atas kepala Hedhy, selanjutnya menembus badan Schneider yang sempat pula menindih badan Hedhy, sebelum jatuh terempas di tarmak atau landasan.

Bagaikan dikomando, petugas pengisi bahan bakar dan oli lari pontang-panting menjauhi pesawat. Mendengar letusan senjata, Mahrizal yang sedang berada di belakang lari ke depan, kemudian menarik Hedhy dan menyuruhnya kembali ke kokpit. Kepada Abu Sofyan, Mahrizal marah sekali. Ia membentak:

“Belum ada perintah menembak, kenapa menembak?”

“Saya didorong sampai bibir saya berdarah,” jawab Abu Sofyan seraya menutup pintu darurat.

Dari jendela kokpit, Hedhy melihat Schneider menggelepar-gelepar. Menyaksikan sesama umat tersiksa seperti itu, Hedhy bertanya kepada Mahrizal.

“Itu orang masih hidup. Apa mau dibiarin mati?”

“Okey, kamu turun,” kata Mahrizal.

Setelah mendapat izin, Hedhy kembali membuka pintu darurat dan turun melalui sayap pesawat. Di bawah ia memeriksa keadaan Schneider, kemudian berteriak memanggil palang merah. Mendengar panggilan Hedhy tadi, Mahrizal sempat berteriak, “Jangan lebih dari dua orang.”

Memenuhi seruan Hedhy, akhirnya dua petugas Palang Merah Thai datang walaupun dengan gemetar ketakutan. Akibatnya, sewaktu mengangkat Schneider, mereka kurang memperhatikan posisi korban sehingga korban sempat berteriak-teriak kesakitan.

Hedhy Juwantoro ikut mengusung Schneider dengan tandu, bahkan menemani petugas palang merah sampai ke pos pengawasan. Di pos ini ia bertemu Manajer Garuda Stasiun Don Muang dan para petugas keamanan. Karena agak lama di pos, Mahrizal berteriak-teriak memanggilnya, “Juwantoro, Juwantoro!”

Hedhy kembali ke pesawat dan melihat Mahrizal dengan bertelanjang dada mondar-mandir di sayap pesawat, kemudian membantu Hedhy naik ke pesawat melalui sayap.

Suasana di pesawat masih sangat panas karena auxiliary power unit atau pembangkit tenaga listrik tambahan untuk menggerakkan mesin pendingin ruangan belum dapat dihidupkan. Herman, Hedhy, dan Mahrizal merundingkan cara meneruskan pengisian bahan bakar dan oli. Mula-mula, baik Mahrizal maupun Manajer Garuda Suparno di Komando Krisis meminta agar kopilot saja yang meneruskan. Namun, Herman dan Hedhy menolaknya sebab bisa sangat berbahaya mengingat Hedhy tidak menguasai tata caranya. Sedangkan para petugas belum berani kembali meneruskan pengisian.

Akhirnya, dengan jaminan Herman kepada Suparno di Komando Krisis melalui pembicaraan dengan baterai cadangan, serta Hedhy yang turun sekali lagi dan mendatangi para petugas di pos pengawasan, pengisian bahan bakar dan oli dapat dilanjutkan dan diselesaikan.

Dalam kesempatan ini, Hedhy beberapa kali bolak-balik antara pesawat dan pos pengawasan. Sementara itu, karena hari sudah malam sehingga pemandangan menjadi gelap, Mahrizal membekali Hedhy sebuah lampu senter. Jika menuju ke pesawat, Hedhy diminta memberikan kode melalui nyala lampu senter, yaitu flash tiga kali, nyala-mati, nyala-mati, nyala-mati.

Dalam kegelapan malam dan kesempatan yang seperti itu, dengan mudah Hedhy bisa lari dan tidak kembali ke pesawat. Namun, itu tidak dilakukannya. Kewajiban dan tanggung jawab menuntunnya kembali ke kokpit dalam todongan pistol dan acungan kampak Abu Sofyan atau Zulfikar. Padahal ia memiliki banyak kesempatan yang jauh lebih baik, lebih mudah serta aman dibanding Robert Wainwright apalagi Carl Schneider.

 

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas #HermanRante  #HedhyJuwantoro

 

 

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (3) DUA SANDERA ASING KABUR, SATU DITEMBAK

 


 

Pada hari pertama pembajakan, #HermanRante dan #HedhyJuwantoro merasa amat tegang. Mereka baru bisa agak tenang dan pasrah setelah ada kontak pembicaraan dengan Jenderal #YogaSugomo. Selesai

kontak pertama dengan #JenderalYoga, mereka ganti merasa capai.

 

Ketegangan kembali melanda awak pesawat, juga para sandera – menjelang Minggu sore, tatkala satu per satu para sandera jatuh lemas karena udara di dalam pesawat panas dan pengap. Dalam suasana yang seperti itu, sewaktu  melihat para pembajak berpelukan satu sama lain, mereka menduga pembajak telah bertekad untuk mati bersama dengan meledakkan pesawat.

 

Hedhy teringat, jika sedang tegang, Herman sebentar-sebentar mengusap dahi, sedangkan dia sendiri sebentar-sebentar mengecek

frekuensi radio dan melihat peta rute penerbangan. Padahal, pesawat tetap nongkrong di landasan.

 

Selama drama pembajakan, sesungguhnya berulang kali Hedhy memperoleh kesempatan emas untuk melarikan diri, di samping beberapa kesempatan kecil lainnya. Namun, entah mengapa, ia tidak tega meninggalkan tanggung jawabnya sebagai kopilot begitu saja. Bukan sok pahlawan. Ia telah berangkat bersama-sama. Rasanya ingin juga pulang bersama-sama.

 

Kesempatan emas pertama sudah diperoleh di Penang sewaktu pesawat mengisi bahan bakar. Pada saat itu, Hedhy disuruh turun

dari pesawat untuk mengawasi pengisian bahan bakar.

.

 

Kesempatan berikutnya tiba tatkala Hedhy disuruh menutup pintu darurat yang dibuka Robert Wainwright untuk melarikan diri.

Hedhy sempat keluar dari pesawat melalui pintu tersebut.

 

Peluang emas berikutnya, atau kalau ada istilah lain, bahkan lebih dari emas, berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, dari sekitar pukul 17.00 sampai dengan sekitar pukul 20.00 hari Minggu. Mengapa?

 

(Selengkapnya di facebook #BambangWiwoho)

 

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

Sabtu, 28 Maret 2026

OPERASI WOYLA 45 TH SILAM VERSI PANJANG 2

 


Operasi Woyla 45 Tahun Silam (2)

SEMULA DIKIRA SHOOTING FILM

 

Sebelum bersama Kapten Pilot #HermanRante harus menerbangkan pesawat Garuda GA 206 Woyla dengan rute Jakarta-Palembang-Medan, Sabtu 28 2Maret 1981, Kopilot #HedhyJuwantoro tidak mempunyai firasat apa-apa.

 

Demikian pula tatkala pesawat sudah

lepas landas dari Bandar Udara Talang Betutu, Palembang, perasaan Hedhy biasa-biasa saja.

Seingat Hedhy, waktu itu pesawat sedang dalam posisi lepas landas, dengan tanda “NO SMOKING” yang sudah padam, tetapi tanda “FASTEN SEATBELT” masih menyala. Pesawat sedang bergerak dari ketinggian sekitar 3.000 ke 4.000 kaki.

 

Tiba-tiba di belakang terdengar suara ribut, dan dengan serta-merta Abu Sofyan masuk ke kokpit seraya menodongkan pistol.

Hedhy yang sedang bertugas menerbangkan pesawat tersenyum menyaksikan adegan tersebut. Ia tidak menyangka pesawat yang

dikemudikannya dibajak orang.

 

Sementara itu, Herman Rante diam saja, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu, ia tetap menjalankan tugas komunikasi ke tower, “Tower air bone,

clear left turn, left turn,” yang dijawab, “Okey, you make a clear left

turn.”

 

Saat pembajakan dimulai, menurut versi #pramugariLydia, #Deliyanti, dan #RatnaWiyanaBarnas, adalah ketika Lydia sedang berdiri memegang mic dan Deliyanti baru saja akan memperagakan cara-cara

penyelamatan penerbangan. Pada saat itulah terdengar suara gaduh.

 

Belum paham tentang apa yang terjadi, tiba-tiba Abu Sofyan menabrak Deliyanti, kemudian menabrak pula Lydia sehingga

kepala Lydia terbentur dinding pesawat di dekat jendela.

 

 

Dalam tempo yang amat singkat, Zulfikar pun telah berdiri di depan dua pramugari tersebut dan menarik Deliyanti. Melihat Deliyanti ditarik

orang, Lydia berteriak, “Del, sini Del.”

 

Bagi ketiga pramugari, pada mulanya mereka menganggap adegan tadi adalah shooting film.

Hanya yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak memberi tahu lebih dulu.

 

Tatkala Abu Sofyan mengokang pistol sekali, Hedhy juga masih menganggap semua itu main-main. Namun, begitu Abu Sofyan

melakukan kokangan yang kedua, Hedhy melihat sebutir peluru sungguhan terlempar jauh. Hatinya pun mulai tercekat, dan dengan sekejap, senyum hilang dari wajahnya.

 

Pemimpin pembajakan, yaitu Mahrizal, masuk ke kokpit setelah memaklumkan pembajakan. Posisi di dalam kokpit adalah kapten

pilot di kursi kiri, kopilot di kursi kanan, sedangkan Mahrizal di belakang kopilot. Ia memerintahkan agar pesawat yang seyogianya

menuju Medan dibelokkan arahnya ke Padang.

 

Atas perintah ini, Hedhy bertanya kepada Herman Rante, “Kita alter heading

sekarang apa nanti?” Dijawab Herman Rante, “Nanti saja di atas Pekanbaru.”

 

Semula #pembajakMahrizal minta agar pesawat diterbangkan ke Kolombo, tetapi kedua pilot tersebut menjawab tidak bisa. Mereka menawarkan untuk ke Singapura saja, Mahrizal menolak. Kemudian ditawarkan ke Kuala Lumpur, juga ditolak. Pilot memberi tahu

kesulitan terbang ke luar negeri karena mereka tidak memiliki peta dan rute penerbangannya. Di samping itu, persediaan bahan bakar

pun tidak cukup. Ini dapat dilihat dari jarum penunjuk bahan bakar.

 

Melihat kenyataan itu akhirnya Mahrizal setuju terbang ke Penang.

Ia mengatakan, “Pokoknya terbang sejauh-jauhnya dari Indonesia.”

 

Di mata para sandera—awak pesawat dan penumpang—para pembajak kelihatan profesional. Sebagai contoh, setiap berbicara dengan tower atau Komando Krisis, Mahrizal berbicara dengan

memegang mic sambil jongkok. Mereka baru berbicara sambil berdiri

pada saat-saat terakhir setelah merasa yakin akan memperoleh kemenangan.

 

Demikian pula kalau mendapat kiriman makanan dan minuman, pramugari yang disuruh mencoba lebih dulu. Sementara itu, lavatory atau kamar kecil dibagi sebagai berikut: yang terletak di bagian depan untuk pilot, kopilot, dan pembajak; yang terletak di kiri belakang untuk sandera wanita; sedangkan sandera pria mendapat jatah kanan belakang.

 

Mereka juga membuat pembagian tugas. Beberapa penumpang disuruh membersihkan kamar kecil, antara lain sandera Trimurni

pernah mendapat tugas membersihkan air kamar kecil yang meluap ke gang pesawat. Pramugari Ceuceu—panggilan untuk Ratna

Wiyana —paling kerap mendapat tugas mengantar makanan ke kokpit.

 

Selama pembajakan, Mahrizal sering sekali berbicara kepada para sandera untuk mencoba meyakinkan perjuangan mereka.

Kalau Mahrizal berbicara secara simpatik, tidak demikian halnya dengan pembajak yang lain. Mereka kasar, beringas, dan seenaknya

sendiri. Tidak jarang Zulfikar mengacung-acungkan granat atau kampak kepada sandera.

 

Seandainya semua pembajak seperti

Mahrizal, barangkali akhir dari drama pembajakan ini bisa lain.

Mahrizal sangat retorik, pandai berbicara dengan menggunakan trik-trik psikologi, berwibawa, dan bahkan seperti mempunyai

kekuatan sugestif yang tinggi.

 

Para pramugari, dengan Lydia yang paling senior—yang

belum sampai tiga bulan baru saja selesai membaca buku tentang pembajakan pesawat di Entebbe (Raid on Entebbe)—pernah hendak mencoba membius para pembajak dengan memasukkan obat-obatan yang tersedia di dalam pesawat dan di tas mereka, ke

dalam makanan atau minuman para pembajak.

 

Namun, dengan apa mereka harus menghancurkan tablet-tablet tersebut? Pisau

dan perabotan dapur dari logam yang bisa dijadikan senjata telah diambil pembajak. Yang tinggal adalah sendok plastik. Sedangkan

air panas pun tidak tersedia lagi. Ini berarti untuk menghancurkan tablet diperlukan waktu yang agak lama sehingga boleh jadi sebelum

rencana berjalan rapi akan ketahuan.

 

Kebimbangan yang lain juga muncul. Bagaimana seandainya sebelum mereka pulas tertidur, sempat curiga jika diberi obat tidur atau penenang? Tidak. Lydia dan

kawan-kawan tidak berani mengambil risiko itu. Sangat berbahaya.

 

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

#HermanRante

#HedhyJuwantoro