Sabtu, 28 Maret 2026

OPERASI WOYLA 45 TH SILAM VERSI PANJANG 2

 


Operasi Woyla 45 Tahun Silam (2)

SEMULA DIKIRA SHOOTING FILM

 

Sebelum bersama Kapten Pilot #HermanRante harus menerbangkan pesawat Garuda GA 206 Woyla dengan rute Jakarta-Palembang-Medan, Sabtu 28 2Maret 1981, Kopilot #HedhyJuwantoro tidak mempunyai firasat apa-apa.

 

Demikian pula tatkala pesawat sudah

lepas landas dari Bandar Udara Talang Betutu, Palembang, perasaan Hedhy biasa-biasa saja.

Seingat Hedhy, waktu itu pesawat sedang dalam posisi lepas landas, dengan tanda “NO SMOKING” yang sudah padam, tetapi tanda “FASTEN SEATBELT” masih menyala. Pesawat sedang bergerak dari ketinggian sekitar 3.000 ke 4.000 kaki.

 

Tiba-tiba di belakang terdengar suara ribut, dan dengan serta-merta Abu Sofyan masuk ke kokpit seraya menodongkan pistol.

Hedhy yang sedang bertugas menerbangkan pesawat tersenyum menyaksikan adegan tersebut. Ia tidak menyangka pesawat yang

dikemudikannya dibajak orang.

 

Sementara itu, Herman Rante diam saja, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu, ia tetap menjalankan tugas komunikasi ke tower, “Tower air bone,

clear left turn, left turn,” yang dijawab, “Okey, you make a clear left

turn.”

 

Saat pembajakan dimulai, menurut versi #pramugariLydia, #Deliyanti, dan #RatnaWiyanaBarnas, adalah ketika Lydia sedang berdiri memegang mic dan Deliyanti baru saja akan memperagakan cara-cara

penyelamatan penerbangan. Pada saat itulah terdengar suara gaduh.

 

Belum paham tentang apa yang terjadi, tiba-tiba Abu Sofyan menabrak Deliyanti, kemudian menabrak pula Lydia sehingga

kepala Lydia terbentur dinding pesawat di dekat jendela.

 

 

Dalam tempo yang amat singkat, Zulfikar pun telah berdiri di depan dua pramugari tersebut dan menarik Deliyanti. Melihat Deliyanti ditarik

orang, Lydia berteriak, “Del, sini Del.”

 

Bagi ketiga pramugari, pada mulanya mereka menganggap adegan tadi adalah shooting film.

Hanya yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak memberi tahu lebih dulu.

 

Tatkala Abu Sofyan mengokang pistol sekali, Hedhy juga masih menganggap semua itu main-main. Namun, begitu Abu Sofyan

melakukan kokangan yang kedua, Hedhy melihat sebutir peluru sungguhan terlempar jauh. Hatinya pun mulai tercekat, dan dengan sekejap, senyum hilang dari wajahnya.

 

Pemimpin pembajakan, yaitu Mahrizal, masuk ke kokpit setelah memaklumkan pembajakan. Posisi di dalam kokpit adalah kapten

pilot di kursi kiri, kopilot di kursi kanan, sedangkan Mahrizal di belakang kopilot. Ia memerintahkan agar pesawat yang seyogianya

menuju Medan dibelokkan arahnya ke Padang.

 

Atas perintah ini, Hedhy bertanya kepada Herman Rante, “Kita alter heading

sekarang apa nanti?” Dijawab Herman Rante, “Nanti saja di atas Pekanbaru.”

 

Semula #pembajakMahrizal minta agar pesawat diterbangkan ke Kolombo, tetapi kedua pilot tersebut menjawab tidak bisa. Mereka menawarkan untuk ke Singapura saja, Mahrizal menolak. Kemudian ditawarkan ke Kuala Lumpur, juga ditolak. Pilot memberi tahu

kesulitan terbang ke luar negeri karena mereka tidak memiliki peta dan rute penerbangannya. Di samping itu, persediaan bahan bakar

pun tidak cukup. Ini dapat dilihat dari jarum penunjuk bahan bakar.

 

Melihat kenyataan itu akhirnya Mahrizal setuju terbang ke Penang.

Ia mengatakan, “Pokoknya terbang sejauh-jauhnya dari Indonesia.”

 

Di mata para sandera—awak pesawat dan penumpang—para pembajak kelihatan profesional. Sebagai contoh, setiap berbicara dengan tower atau Komando Krisis, Mahrizal berbicara dengan

memegang mic sambil jongkok. Mereka baru berbicara sambil berdiri

pada saat-saat terakhir setelah merasa yakin akan memperoleh kemenangan.

 

Demikian pula kalau mendapat kiriman makanan dan minuman, pramugari yang disuruh mencoba lebih dulu. Sementara itu, lavatory atau kamar kecil dibagi sebagai berikut: yang terletak di bagian depan untuk pilot, kopilot, dan pembajak; yang terletak di kiri belakang untuk sandera wanita; sedangkan sandera pria mendapat jatah kanan belakang.

 

Mereka juga membuat pembagian tugas. Beberapa penumpang disuruh membersihkan kamar kecil, antara lain sandera Trimurni

pernah mendapat tugas membersihkan air kamar kecil yang meluap ke gang pesawat. Pramugari Ceuceu—panggilan untuk Ratna

Wiyana —paling kerap mendapat tugas mengantar makanan ke kokpit.

 

Selama pembajakan, Mahrizal sering sekali berbicara kepada para sandera untuk mencoba meyakinkan perjuangan mereka.

Kalau Mahrizal berbicara secara simpatik, tidak demikian halnya dengan pembajak yang lain. Mereka kasar, beringas, dan seenaknya

sendiri. Tidak jarang Zulfikar mengacung-acungkan granat atau kampak kepada sandera.

 

Seandainya semua pembajak seperti

Mahrizal, barangkali akhir dari drama pembajakan ini bisa lain.

Mahrizal sangat retorik, pandai berbicara dengan menggunakan trik-trik psikologi, berwibawa, dan bahkan seperti mempunyai

kekuatan sugestif yang tinggi.

 

Para pramugari, dengan Lydia yang paling senior—yang

belum sampai tiga bulan baru saja selesai membaca buku tentang pembajakan pesawat di Entebbe (Raid on Entebbe)—pernah hendak mencoba membius para pembajak dengan memasukkan obat-obatan yang tersedia di dalam pesawat dan di tas mereka, ke

dalam makanan atau minuman para pembajak.

 

Namun, dengan apa mereka harus menghancurkan tablet-tablet tersebut? Pisau

dan perabotan dapur dari logam yang bisa dijadikan senjata telah diambil pembajak. Yang tinggal adalah sendok plastik. Sedangkan

air panas pun tidak tersedia lagi. Ini berarti untuk menghancurkan tablet diperlukan waktu yang agak lama sehingga boleh jadi sebelum

rencana berjalan rapi akan ketahuan.

 

Kebimbangan yang lain juga muncul. Bagaimana seandainya sebelum mereka pulas tertidur, sempat curiga jika diberi obat tidur atau penenang? Tidak. Lydia dan

kawan-kawan tidak berani mengambil risiko itu. Sangat berbahaya.

 

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

#HermanRante

#HedhyJuwantoro

 

 

 

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (2) SEMULA DIKIRA SHOOTING FILM

 


 

Sebelum bersama Kapten Pilot #HermanRante harus menerbangkan pesawat Garuda GA 206 Woyla dengan rute Jakarta-Palembang-Medan, Sabtu 28 2Maret 1981, Kopilot #HedhyJuwantoro tidak mempunyai firasat apa-apa.

 

Demikian pula tatkala pesawat sudah

lepas landas dari Bandar Udara Talang Betutu, Palembang, perasaan Hedhy biasa-biasa saja.

Seingat Hedhy, waktu itu pesawat sedang dalam posisi lepas landas, dengan tanda “NO SMOKING” yang sudah padam, tetapi tanda “FASTEN SEATBELT” masih menyala. Pesawat sedang bergerak dari ketinggian sekitar 3.000 ke 4.000 kaki.

 

Tiba-tiba di belakang terdengar suara ribut, dan dengan serta-merta Abu Sofyan masuk ke kokpit seraya menodongkan pistol.

Hedhy yang sedang bertugas menerbangkan pesawat tersenyum menyaksikan adegan tersebut. Ia tidak menyangka pesawat yang

dikemudikannya dibajak orang.

 

Sementara itu, Herman Rante diam saja, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu, ia tetap menjalankan tugas komunikasi ke tower, “Tower air bone, clear left turn, left turn.”

 

Saat pembajakan dimulai, menurut versi #pramugariLydia, #Deliyanti, dan #RatnaWiyanaBarnas, adalah ketika Lydia sedang berdiri memegang mic dan Deliyanti baru saja akan memperagakan cara-cara

penyelamatan penerbangan. Pada saat itulah terdengar suara gaduh.

 

Belum paham tentang apa yang terjadi, tiba-tiba Abu Sofyan menabrak Deliyanti, kemudian menabrak pula Lydia sehingga kepala Lydia terbentur dinding pesawat di dekat jendela.

 

 

Dalam tempo yang amat singkat, Zulfikar pun telah berdiri di depan dua pramugari tersebut dan menarik Deliyanti. Bagi ketiga pramugari, pada mulanya mereka menganggap adegan tadi adalah shooting film.

Hanya yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak memberi tahu lebih dulu.

 

 

Pemimpin pembajakan, yaitu Mahrizal, masuk ke kokpit setelah memaklumkan pembajakan. Ia memerintahkan agar pesawat yang seyogianya

menuju Medan dibelokkan arah.

 

Semula #pembajakMahrizal minta agar pesawat diterbangkan ke Kolombo, tetapi kedua pilot tersebut menjawab tidak bisa. Mereka menawarkan untuk ke Singapura saja, Mahrizal menolak. Kemudian ditawarkan ke Kuala Lumpur, juga ditolak. Pilot memberi tahu

kesulitan terbang ke luar negeri karena mereka tidak memiliki peta dan rute penerbangannya. Di samping itu, persediaan bahan bakar

pun tidak cukup.

 

Mahrizal mengatakan, “Pokoknya terbang sejauh-jauhnya dari Indonesia.”

(selengkapnya di facebook #BambangWiwoho)                      #BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

Jumat, 27 Maret 2026

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (1) KEPALA KO-PILOT HEDHY DITODONG PISTOL



 

Tepat 45 tahun yang lalu, Sabtu 28 Maret 1981.

Pesawat berkapasitas 102 penumpang buatan McDonnel Douglas itu, dengan perkasa menembus segumpal awan kumulus di lapisan troposphere di rentang atas Sungai Batanghari.

Kapten Pilot #HermanRante baru saja selesai mengatur stabilisator vertikal. Dengan sekejap, disapukannya matanya ke panil instrumen di depannya. Ketika hendak mencocokkan heading atau arah pesawat, diliriknya ko-pilot #HedhyJuwantoro yang tengah menarik flight plan. Keduanya tersenyum. Semua indikator menunjukkan bahwa instrumen-instrumen pesawat bekerja secara sempurna. Bagi Hedhy yang sejak semalam agak kurang enak badan, keadaan itu sungguh menggembirakan.

 

Dengan kecepatan terbang sekitar 600 mil per jam, ia sudah pasti akan mencapai Medan tepat sesuai skedul, pukul 10.55. Dan bila selanjutnya juga berjalan lancar, maka tugas hari Sabtu itu akan segera berakhir. Ia bakal bisa segera beristirahat.

 

Tetapi, belum sempat ia membaca kolom-kolom lintasan terbang di flight plan, di kabin di belakangnya terdengar suara ribut-ribut. ”Jangan bergerak! Jangan bergerak!” Siapa yang bergerak akan saya tembak! Pesawat ini dibajak!”. Tak percaya pada pendengarannya, kedua pilot tersebut hampir bersamaan menengok ke belakang.

 

Masya Allah! Seseorang berkulit kuning bersih, bertubuh jangkung untuk ukuran Indonesia, berdiri di pintu kokpit menodongkan pistol ke kepalanya. Hedhy mencoba mengedipkan mata. Semalam susah tidur. Barangkali kini terlena dan bermimpi. Tatkala seseorang yang kemudian diketahuinya adalah Abu Sofyan itu untuk kedua kalinya mengokang pistol FN dan satu peluru jatuh keluar, ia sadar ini adalah kejadian yang sesungguhnya. Ia paham betul itu pistol otomatis yang sangat peka, yang jika sudah dikokang dan terkena benturan sedikit saja akan bisa meletus, dan meremukkan kepala. Naudzubillah.

 

Di kabin pesawat, para penumpang dan pramugari bengong menghadapi keadaan. Hiromi Higa, penumpang berkebangsaan Jepang tidak memahami apa yang sedang terjadi. Sebagian yang lain menyangka, satu regu alat negara sedang menangkap buronan.

 

Penumpang Anwar yang duduk di kursi nomor 2E, masih tetap memejamkan mata. “Aaahhh...... keterlaluan, main-main di udara”, katanya dalam hati. Namun mengapa semua harus pakai angkat tangan segala? Tiba-tiba sebuah benda dingin terasa menyentuh keningnya. Dibukanya matanya yang sudah hendak tidur tadi. Astaghfirullah ! Benda itu adalah sepucuk senjata api yang berada dalam genggaman seseorang yang bercambang dan berjenggot lebat. Sorot matanya begitu tajam. Tampang orang asing. Serasa copot seluruh persendiannya, tatkala kemudian ingatannya sampai pada sepak terjang teroris-teroris internasional. Tangan bagaikan dibanduli beban seribu kilo. Toh ia harus mampu mengangkatnya bila tak ingin ditembus melinjo panas. Pelan dan gemetar. Diikutinya perintah agar pindah duduk ke belakang. Sempat dengan sudut matanya, dilihatnya seorang pramugari sudah menitikkan air mata, juga digebah berjalan ke belakang.

 

Selanjutnya posisi tempat duduk juga dipisah. Para penumpang yang semula duduk terpencar sesuai nomer kursinya, dikumpulkan merapat ke depan. Laki-laki di sebelah kiri  gang kecuali yang orang asing, sedangkan perempuan di bagian kanan. Sementara itu kedua tangan harus diangkat dan diletakkan di atas atau di bagian belakang kepala. Entah sampai kapan? (Bersambung)                      

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

#HermanRante

#HedhyJuwantoro

 

 

 

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (1) KEPALA KO-PILOT HEDHY DITODONG PISTOL

 

Operasi Woyla 45 Tahun Silam (1)
KEPALA KO-PILOT HEDHY DITODONG PISTOL

(versi pendek/IG)


 
Para awak pesawat Garuda Woyla dari kiri ke kanan: Lydia (memegang foto almarhum Kapten Pilot Herman Rante), Ratna Wiyana Barnas, Delyanti (memegang topi Kapten Herman) dan  Ko-Pilot Hedhy Juwantoro.

Tepat 45 tahun yang lalu, Sabtu 28 Maret 1981.

Pesawat berkapasitas 102 penumpang buatan McDonnel Douglas itu, dengan perkasa menembus segumpal awan kumulus di lapisan troposphere di rentang atas Sungai Batanghari.

Kapten Pilot #HermanRante baru saja selesai mengatur stabilisator vertikal. Dengan sekejap, disapukannya matanya ke panil instrumen di depannya. Ketika hendak mencocokkan heading atau arah pesawat, diliriknya ko-pilot #HedhyJuwantoro yang tengah menarik flight plan. Keduanya tersenyum. Semua indikator menunjukkan bahwa instrumen-instrumen pesawat bekerja secara sempurna. Bagi Hedhy yang sejak semalam agak kurang enak badan, keadaan itu sungguh menggembirakan.

 

Dengan kecepatan terbang sekitar 600 mil per jam, ia sudah pasti akan mencapai Medan tepat sesuai skedul, pukul 10.55. Dan bila selanjutnya juga berjalan lancar, maka tugas hari Sabtu itu akan segera berakhir. Ia bakal bisa segera beristirahat.

 

Tetapi, belum sempat ia membaca kolom-kolom lintasan terbang di flight plan, di kabin di belakangnya terdengar suara ribut-ribut. ”Jangan bergerak! Jangan bergerak!” Siapa yang bergerak akan saya tembak! Pesawat ini dibajak!”. Tak percaya pada pendengarannya, kedua pilot tersebut hampir bersamaan menengok ke belakang.

 

Masya Allah! Seseorang berkulit kuning bersih, bertubuh jangkung untuk ukuran Indonesia, berdiri di pintu kokpit menodongkan pistol ke kepalanya. Hedhy mencoba mengedipkan mata. Semalam susah tidur. Barangkali kini terlena dan bermimpi. Tatkala seseorang yang kemudian diketahuinya adalah Abu Sofyan itu untuk kedua kalinya mengokang pistol FN dan satu peluru jatuh keluar, ia sadar ini adalah kejadian yang sesungguhnya. Ia paham betul itu pistol otomatis yang sangat peka, yang jika sudah dikokang dan terkena benturan sedikit saja akan bisa meletus, dan meremukkan kepala.

(selengkapnya di facebook #BambangWiwoho)                     

#BWiwoho  #OperasiWoyla #YogaSugomo  #JenderalYoga  #LoyalisdiBalikLayar #PenerbitBukuKompas

#HermanRante

#HedhyJuwantoro


Rabu, 25 Maret 2026

MESKI MARAH & MALU, PRESIDEN SOEHARTO PENUHI TUNTUTAN MALARI

 

Orde Baru mengoreksi Strategi Pembangunan dari betitik berat ke pertumbuhan menjadi pemerataan pembangunan.








KERUSUHAN sosial yang membakar Jakarta tatkala sedang berlangsung kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang – 14 Januaru 1974 -- mempermalukan aparat intelijen, ketertiban, dan keamanan. Dengan segera dilakukan perombakan besar, terutama setelah #JenderalSoemitro mengundurkan diri sebagai #Pangkopkamtib, lembaga Asisten Pribadi Presiden dibubarkan, dan Kepala BAKIN #SutopoJuwono digantikan oleh #YogaSugomo, yang ditarik dari tugas sebagai Deputi Kepala Perwakilan Tetap Republik Indonesia di PBB.

Jabatan Pangkopkamtib kembali dipegang langsung oleh #PresidenSoeharto dengan wakilnya #LaksamanaSudomo. Pada tahun 1978, Pak Harto menyerahkan jabatan Pangkopkamtib kepada Sudomo (1978–1983), yang didampingi oleh #JenderalWidjojoSoejono sebagai Kepala Staf Kopkamtib (1980–1982).

Meskipun Pak Harto merasa malu dan kecewa, bahkan marah, sebagaimana tersirat dalam pidato akhir tahun 1974, yang menyebut #PeristiwaMalari sebagai peristiwa pengacauan, toh ia memperhatikan dengan saksama aspirasi mahasiswa yang menuntut dilakukannya koreksi terhadap strategi pembangunan yang terlalu meng utamakan pertumbuhan.

Dalam Sidang Kabinet seminggu setelah Peristiwa Malari, yaitu Selasa, 22 Januari 1974, pemerintah menggariskan kebijakan terobosan yang cukup mendasar di bidang penanaman modal dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.

Menteri Penerangan Mashuri menjelaskan kepada wartawan di #BinaGraha, dalam bidang penanaman modal ditetapkan penanaman modal asing harus berbentuk usaha patungan dengan pemodal pribumi. Sidang juga menggariskan kebijakan pola hidup sederhana bagi para pejabat sipil dan militer, aparatur pemerintahan dan perusahaan-perusahaan negara, baik di pusat maupun di daerah.

Selanjutnya, pada tanggal 11 Februari 1974, dibentuk Dewan Pembina Pengembangan Pengusaha Pribumi, dan kemudian saat memasuki #RepelitaII (1974–1979) dikeluarkan Peraturan Pemerintah yang mengakhiri kegiatan usaha asing dalam bidang perdagangan.

Tiga puluh enam hari berikutnya, tepatnya Selasa, 19 Maret 1974, sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional menggariskan kebijakan guna mendukung penguatan usaha pribumi dan pengusaha kecil. Dalam hal permodalan pengusaha pribumi, sektor informal dan pedagang-pedagang kecil atau bakul-bakul kecil di pasar tradisional dan pelosok pedesaan, dikeluarkan fasilitas kredit investasi yang hanya diperuntukkan bagi pengusaha pribumi. Untuk itu diperkenalkan model pembiayaan Kredit Investasi Kecil (#KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (#KMKP) masing-masing sebesar Rp5 juta, #KreditDesa dan #KreditCandakKulak dari Rp10.000 sampai dengan Rp100.000, serta skema asuransi kredit melalui PT Asuransi Kredit Indonesia (#Askrindo).

Sedangkan untuk memeratakan pembangunan ke daerah sampai ke pelosok desa, dialokasikan anggaran pembangunan yang dikenal sebagai Proyek Instruksi Presiden (#ProyekInpres) Daerah Tingkat (Dati) I, Inpres Dati II, Inpres Desa, Inpres Kesehatan, Inpres Pembangunan Sekolah Dasar, dan Inpres Pasar.

Kebijakan pemerataan pembangunan itu dipertegas dan dirumuskan dalam strategi pembangunan yang semula di wacanakan: pertumbuhan–pemerataan–pemantapan menuju keadilan sosial. Pada pengantar RAPBN 1977/78, Pak Harto memperkenalkan sebagai #TrilogiPembangunan, yaitu:

1. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya;

2. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi;

3. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

Sejalan dengan itu, #BadanKoordinasiPenanamanModal memerinci dan menetapkan jenis-jenis usaha apa saja yang hanya diperuntukkan bagi usaha kecil dan koperasi. Jenis jenis itu tertutup bagi modal asing dan modal besar.

Demikian pula departemen-departemen teknis, khususnya Departemen Perindustrian, menindaklanjuti dengan mendorong pengembangan industri kecil, kerajinan, dan rumah tangga. Pusat-pusat industri kecil dikembangkan di berbagai daerah.

Dalam periode Kabinet 1983–1988, dibentuk unit kerja Usaha Peningkatan Penggunaan Produksi (barang dan jasa) Dalam Negeri (#UP3DN) yang aktif memerinci serta mengarahkan produk dan jasa-jasa apa saja yang harus dipenuhi dan memakai produk dalam negeri.

Belanja atau pengadaan barang dan jasa pemerintah serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diawasi secara ketat. Selaku pengurus Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (#GIATPI), beberapa kali penulis dipanggil rapat oleh Menteri Muda UP3DN Ginanjar Kartasasmita, untuk membahas kemungkinan bagi anggota kami memproduksi geotekstil di dalam negeri, yang akan dipergunakan sebagai hamparan landasan pembangunan jalan tol Cengkareng yang melintasi rawa-rawa. Setelah kami kaji secara mendalam dan ternyata perusahaan anggota kami tidak ada yang sanggup, barulah kontraktor jalan tol tersebut diizinkan mengimpor.

Contoh lain lagi, kami juga diajak berunding dan didorong untuk bisa memproduksi di dalam negeri, kemasan, atau kantong-kantong plastik jumbo berkapasitas sampai dengan satu ton. Yang ini bisa kami penuhi. Dengan cara-cara seperti ini, beberapa di antara pengusaha-pengusaha muda nasional sekarang menjadi pengusaha besar yang sukses.

Sejalan dengan itu semua, gerakan menabung yang sudah dimulai pada #RepelitaI semakin ditingkatkan. Jenis jenis tabungan masyarakat di perbankan dan kantor pos diperbanyak, dengan keringanan-keringanan bea administrasi dan manajemen, agar tabungan-tabungan kecil yang dimiliki masyakarat bawah tidak habis digerogoti oleh beban-beban administrasi dan manajemen bank atau lembaga keuangan di mana mereka menabung. Lebih dari itu, kepada para penabung justru diberikan insentif berupa undian berhadiah.

#Polahidupsederhana pun digalakkan. Kunjungan-kun jungan ke daerah yang memang diperlukan; dianjurkan memakai pola inspeksi mendadak. Rombongan kunjungan kerja dibatasi, upacara-upacara disederhanakan. Bahkan pesta-pesta keluarga pegawai negeri dan TNI/Polri—khususnya pesta perkawinan— dibatasi pula, termasuk jumlah undangannya, paling banyak sekitar 250 undangan, dan tidak boleh di tempat-tempat mewah seperti hotel dan sejenisnya.

Pada masa itu, balai-balai pertemuan mewah di Jakarta hanya ada di hotel-hotel. Balai balai pertemuan mewah seperti Bidakara, Balai Sudirman, Balai Kartini, dan Balai Sidang Senayan belum ada.

Pada berbagai pengarahannya, Pak Harto menegaskan agar di dalam pola operasional pembangunan, kita menjadikan masalah pemerataan sebagai batu pijakan.

Dalam pidato tatkala meresmikan dua pabrik teh di Panglejar, Bandung, 18 Mei 1984, Presiden berkata, “Watak kerakyatan pembangunan harus kita camkan sedalam-dalamnya dalam jiwa kita. Harus tecermin jelas dalam keseluruhan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan“.

Sayang sekali, dalam masa kekuasaan Pak Harto sepanjang tiga dasawarsa, strategi kebijakan yang bagus yang digariskan demi memenuhi tuntutan masyarakat khususnya para mahasiswa itu, berjalan jatuh bangun, tidak berlangsung secara istiqomah (Bab 11 buku 1 trilogi #TonggakTonggakOrdeBaru, #BWiwoho, #PenerbitBukuKompas)